PLTS di China Diduga Menyebabkan Habitat Burung Ikut Terdesak

  • 30 Agt 2026 22:37 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, China - Energi surya selama ini identik dengan solusi untuk mengurangi emisi dan mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil. Namun, ekspansi pembangkit tenaga surya dalam skala besar ternyata membawa persoalan lain ketika pembangunan fasilitasnya mengubah lahan yang sebelumnya menjadi habitat satwa.

Temuan itu berasal dari studi yang diterbitkan di jurnal Science pada Kamis, 20 Agustus 2026. Peneliti menganalisis kondisi di 2.344 kabupaten China selama 2014-2023 dan menemukan kebijakan yang lebih kuat dalam mendorong energi surya berkaitan dengan penurunan keanekaragaman burung.

Besarnya perubahan memang tidak berarti semua proyek panel surya akan langsung menghilangkan populasi burung. Penelitian tersebut menemukan dampaknya tergolong sedang, tetapi menjadi lebih kuat di wilayah yang lebih makmur dan bukan kawasan gurun.

Masalah utamanya ternyata bukan panel suryanya semata, melainkan perubahan penggunaan lahan. Lahan pertanian dan padang rumput yang sebelumnya memiliki beragam jenis tumbuhan dapat berubah menjadi kawasan terbangun, sehingga tempat mencari makan, berlindung, dan berkembang biak bagi burung ikut berubah.

Menariknya, peneliti menemukan kondisi yang disebut "inferior greening" atau penghijauan berkualitas rendah. Jumlah tutupan vegetasi memang dapat meningkat setelah pembangunan, tetapi vegetasi yang lebih seragam tidak otomatis memiliki nilai ekologis yang sama dengan habitat alami yang beragam.

Dampaknya juga tidak dirasakan semua jenis burung secara sama. Burung yang menetap maupun bermigrasi mengalami penurunan keanekaragaman, sementara spesies yang berasal dari habitat pegunungan atau wilayah yang kurang cocok untuk pembangunan surya relatif tidak menunjukkan dampak serupa.

Peneliti menggunakan data pengamatan burung dari masyarakat sebagai salah satu sumber informasi. Cara ini membantu memberikan gambaran perubahan keanekaragaman dalam wilayah yang sangat luas, sekaligus menunjukkan bahwa burung dapat menjadi penanda sederhana untuk melihat perubahan kondisi ekosistem.

Temuan tersebut tidak berarti China atau negara lain harus menghentikan pembangunan energi surya. Huiming Zhang, penulis utama penelitian menegaskan, pesan utamanya bukan untuk memperlambat transisi ke energi terbarukan, tetapi untuk memastikan pembangunan energi surya mempertimbangkan faktor ekologis dengan lebih baik.

Artinya, persoalan penting berikutnya adalah menentukan di mana panel surya dibangun. Studi tersebut menyarankan proyek berskala besar diarahkan ke lokasi dengan konflik ekologis lebih rendah, sementara wilayah yang memiliki habitat penting perlu mendapatkan penilaian lingkungan yang lebih ketat.

Pendekatan ini juga membuka peluang untuk mengubah cara menilai keberhasilan proyek energi bersih. Selain menghitung berapa banyak listrik dan emisi yang dapat dihasilkan, perencana perlu mempertimbangkan apakah pembangunan tersebut mengurangi kualitas habitat dan keanekaragaman hayati.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

China sendiri telah berkembang menjadi kekuatan utama energi surya dunia, sehingga keputusan mengenai lokasi proyek akan memiliki dampak yang sangat luas. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi negara lain bahwa transisi energi bersih tidak cukup hanya mengejar penurunan emisi, tetapi juga harus memastikan solusi iklim tidak menciptakan masalah lingkungan baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....