Robot Humanoid Mulai Wajib “Sekolah” sebelum Bekerja di China
- 12 Agt 2026 11:25 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Robot humanoid tidak lagi hanya dituntut mampu berjalan, berbicara, atau mengikuti perintah sederhana. China kini mulai melatih robot seperti manusia mengikuti pendidikan kerja, dengan tujuan membuat mereka siap menjalankan tugas di lingkungan nyata. Sekolah robot yang diklaim pertama di China tersebut dibuka di Distrik Yuhang, Hangzhou, Provinsi Zhejiang, pada 29 Juni 2026. Dilansir Shanghai Daily, Institusi ini didirikan bersama oleh Institute of Robotics dari Zhejiang University, Zhejiang Institute of Quality Sciences, serta sejumlah perusahaan industri.
Berbeda dari sekolah biasa, sekitar 30 “siswa” angkatan pertama merupakan robot humanoid dari berbagai bidang. Robot tersebut dirancang untuk kebutuhan manufaktur, layanan, keamanan, hingga hiburan.
Sebelum mulai belajar, setiap robot menjalani pemeriksaan kondisi untuk mengetahui kemampuan awalnya. Setelah itu, robot mengikuti pelatihan sesuai pekerjaan yang dituju dan diuji langsung di lingkungan yang menyerupai kondisi kerja sebenarnya. Jika mampu memenuhi standar yang ditentukan, robot dapat memperoleh sertifikat keterampilan profesional untuk pekerjaan tertentu. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kemampuan robot tidak hanya dinilai dari kecanggihan perangkat keras, tetapi juga dari kemampuannya menyelesaikan tugas secara konsisten.
Materi pelatihan dibagi menjadi empat bidang utama, yakni industri, kesehatan, seni, dan olahraga. Robot juga dilatih mengenai kemampuan teknis, memahami lingkungan, bergerak, mengoperasikan perangkat, hingga aspek estetika dan etika. Pelatihan tersebut penting karena kondisi di lapangan tidak selalu sama dengan skenario yang sudah diprogram sebelumnya. Robot yang bekerja di pabrik, rumah sakit, museum, atau tempat umum harus mampu merespons perubahan lingkungan tanpa selalu menunggu instruksi manusia.
Sekolah robot ini menggunakan WJ-Brain yang dikembangkan Zhejiang University. Sistem tersebut dirancang untuk menambahkan kemampuan penalaran logis pada model vision-language-action (VLA), sehingga robot dapat menghubungkan apa yang dilihat dengan tindakan yang perlu dilakukan. Dengan pendekatan itu, robot diharapkan dapat menghadapi situasi yang belum pernah ditemui, menyusun langkah penyelesaian tugas, dan mengambil keputusan secara lebih mandiri. Kemampuan seperti ini menjadi salah satu kunci agar robot humanoid dapat digunakan secara lebih luas di dunia nyata.
Pelatihan juga tidak berhenti ketika robot mendapatkan sertifikat. Kemampuan robot akan terus diperbarui menggunakan AI agar mereka dapat meningkatkan performa setelah diterjunkan ke lingkungan kerja. Robot-robot tersebut nantinya diharapkan dapat digunakan di berbagai tempat, mulai dari pabrik dan fasilitas kesehatan hingga museum, komunitas, serta layanan publik. Artinya, “kelulusan” bukan akhir proses, melainkan awal dari tahap penggunaan dan pembelajaran yang lebih panjang.
Zhejiang University belum mengungkap berapa lama robot harus menjalani pelatihan sebelum dinyatakan lulus. Informasi mengenai persyaratan detail dan biaya pendidikan juga belum diumumkan secara terbuka.
Meski begitu, keberadaan sekolah tersebut memperlihatkan perubahan penting dalam pengembangan robot humanoid. Fokus industri mulai bergeser dari sekadar membuat robot yang terlihat dan bergerak seperti manusia menjadi menciptakan mesin yang benar-benar mampu bekerja dalam kondisi nyata.
Bagi dunia industri, model pelatihan seperti ini juga dapat menjadi dasar untuk membuat standar keterampilan robot. Jika berkembang lebih jauh, bukan tidak mungkin robot di masa depan memiliki semacam “sertifikat kompetensi” yang menunjukkan jenis pekerjaan yang mampu mereka lakukan secara aman dan terukur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....