Uni Eropa Ubah Peraturan Penggunaan AI di Android
- 23 Jul 2026 10:08 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Persaingan layanan kecerdasan buatan (AI) di perangkat Android diperkirakan akan memasuki babak baru setelah Uni Eropa mewajibkan Google membuka akses sejumlah fitur inti sistem operasinya kepada layanan AI pesaing. Kebijakan ini diharapkan membuat pengguna tidak lagi bergantung pada satu asisten digital yang terintegrasi secara bawaan di perangkat.
Keputusan tersebut diterbitkan Komisi Eropa pada Kamis 16 Juli 2026, sebagai bagian dari implementasi Digital Markets Act (DMA). Regulasi ini dirancang untuk membatasi dominasi perusahaan teknologi yang berstatus gatekeeper sekaligus membuka ruang persaingan yang lebih setara di pasar digital.
Selama ini, layanan AI milik perusahaan lain dinilai belum memperoleh akses penuh terhadap fungsi-fungsi penting Android. Kondisi tersebut membuat pengalaman penggunaan asisten AI pesaing belum mampu menyamai Gemini yang telah terintegrasi langsung dengan sistem operasi Google.
Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa untuk Transisi Bersih, Adil, dan Kompetitif, Teresa Ribera, mengatakan kebijakan ini ditujukan untuk menciptakan persaingan yang lebih sehat. "Keputusan ini akan membantu pesaing yang lebih kecil bersaing dan memberikan pilihan, sekaligus melindungi privasi pengguna," ujarnya.
Melalui aturan baru tersebut, Google diwajibkan membuka akses ke 11 fitur Android yang dibutuhkan layanan AI pihak ketiga. Fitur tersebut mencakup aktivasi asisten melalui tombol maupun perintah suara, akses terhadap konteks pengguna, kemampuan menjalankan tindakan lintas aplikasi, hingga pemanfaatan sumber daya perangkat.
Jika ketentuan ini diterapkan, pengguna nantinya dapat memanggil asisten AI pilihannya menggunakan kata pemicu suara layaknya perintah "Hey Google". Asisten AI lain juga berpotensi membantu mengirim e-mail, membuat jadwal, memesan makanan, memanggil transportasi daring, hingga menjalankan berbagai tugas lintas aplikasi dengan persetujuan pengguna.
Komisi Eropa juga meminta Google membuka akses layanan AI terhadap sejumlah aplikasi buatannya, seperti Gmail, Calendar, Drive, Docs, Maps, YouTube, Messages, dan Phone. Selain itu, perusahaan AI akan memperoleh akses setara terhadap model AI yang berjalan langsung di perangkat, termasuk Gemini Nano, sehingga mampu menjalankan tugas di latar belakang tanpa mengganggu aktivitas pengguna.
Tidak hanya Android, Uni Eropa juga menginstruksikan Google membagikan sebagian data Google Search kepada mesin pencari dan chatbot AI yang memiliki kemampuan pencarian internet. Data yang diberikan harus melalui proses anonimisasi sehingga informasi pribadi, seperti alamat IP, riwayat pencarian, maupun identitas pengguna tidak ikut dibagikan.
Meski demikian, Google menilai keputusan tersebut dapat memunculkan konsekuensi terhadap keamanan dan privasi pengguna. "Keputusan hari ini berisiko melemahkan perlindungan privasi dan keamanan yang penting bagi jutaan warga Eropa," kata President of Global Affairs Google dan Alphabet, Kent Walker dikutip dari Google Blog.
Menurut jadwal implementasi, sebagian besar kewajiban tersebut harus tersedia pada Android 18 atau paling lambat 1 Agustus 2027, sedangkan fitur yang memungkinkan beberapa asisten AI merespons kata pemicu suara secara bersamaan ditargetkan hadir pada Android 19 sebelum 1 Agustus 2028. Komisi Eropa menegaskan seluruh mekanisme tetap disertai pengamanan, audit independen, serta persyaratan perlindungan data untuk memastikan kompetisi berjalan tanpa mengabaikan keamanan pengguna.
Kebijakan ini menjadi salah satu penerapan terbesar Digital Markets Act terhadap ekosistem AI dan sistem operasi seluler. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut dapat mempercepat inovasi layanan AI di Eropa, sekaligus menjadi acuan bagi regulator di kawasan lain dalam menyeimbangkan persaingan, interoperabilitas, dan perlindungan data pengguna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....