NASA Uji Cara Baru Perpanjang Usia Satelit
- 07 Jul 2026 13:34 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Washington - Masa pakai satelit dan teleskop antariksa selama ini umumnya berakhir ketika orbitnya semakin rendah dan akhirnya masuk kembali ke atmosfer bumi. Kini, NASA mencoba pendekatan baru dengan menyelamatkan wahana yang masih layak beroperasi melalui misi servis robotik langsung di ruang angkasa.
Misi tersebut ditujukan untuk menyelamatkan Neil Gehrels Swift Observatory, teleskop antariksa yang telah mengamati berbagai fenomena kosmik selama hampir 22 tahun. Jika berhasil, ini akan menjadi pertama kalinya wahana robot milik perusahaan swasta menangkap pesawat antariksa NASA yang sejak awal tidak dirancang untuk diperbaiki atau diservis di orbit.
NASA menjelaskan Swift terancam kehilangan ketinggian akibat hambatan atmosfer yang semakin kuat, diperparah oleh meningkatnya aktivitas Matahari dalam beberapa tahun terakhir. Tanpa tindakan penyelamatan, observatorium itu diperkirakan turun melewati batas orbit ideal sekitar 300 kilometer pada bulan ini dan berpotensi masuk ke atmosfer bumi pada musim gugur 2026.
Untuk menjalankan misi tersebut, NASA memilih perusahaan Katalyst Space Technologies pada September tahun lalu. Dalam waktu hanya sembilan bulan, perusahaan itu merancang, membangun, menguji, dan meluncurkan satelit robot bernama LINK yang kini sudah berada di orbit yang sama dengan Swift.
LINK diluncurkan menggunakan roket Pegasus XL milik Northrop Grumman yang dilepaskan dari pesawat Stargazer di atas Atol Kwajalein, Kepulauan Marshall. Setelah sempat tertunda akibat cuaca dan masalah perangkat lunak, peluncuran akhirnya berlangsung pada Jumat pukul 04.36 ET dan komunikasi dengan satelit berhasil dilakukan.
Selama beberapa minggu ke depan, LINK akan menguji sistem navigasi sebelum mendekati Swift secara perlahan. Robot tersebut kemudian akan memeriksa kondisi fisik observatorium untuk menentukan titik terbaik sebelum tiga lengan robotiknya digunakan untuk menangkap wahana itu.
Setelah berhasil mencengkeram Swift, LINK akan menyalakan mesin ion secara bertahap untuk menaikkan orbit observatorium hingga sekitar 600 kilometer dari permukaan bumi. Proses ini diperkirakan berlangsung selama dua hingga tiga bulan sebelum LINK melepaskan Swift dan mengakhiri misinya dengan masuk kembali ke atmosfer.
Menurut CEO Katalyst Space, Ghonhee Lee, keberhasilan misi ini dapat membuka jalan bagi perawatan satelit yang sebelumnya dianggap tidak mungkin dilakukan. "Dengan menunjukkan bahwa kami dapat memperpanjang usia wahana secara cepat dan hemat biaya, kami sedang menciptakan cetak biru untuk merawat pesawat antariksa yang sejak awal tidak dirancang untuk diservis di orbit," ujarnya.
NASA menilai Swift layak diselamatkan karena hingga kini belum ada teleskop lain yang mampu menggantikan seluruh kemampuannya. Selama lebih dari dua dekade, observatorium yang diluncurkan pada 2004 itu telah mendeteksi lebih dari 2.000 ledakan sinar gamma serta mendukung pengamatan komet, lubang hitam, hingga gelombang gravitasi.
Kepala Divisi Astrofisika NASA, Shawn Domagal-Goldman, mengatakan misi ini memang penuh risiko, tetapi manfaat ilmiahnya dinilai sangat besar. "Ini bukan pesawat antariksa biasa, melainkan observatorium dengan kemampuan unik untuk penelitian astrofisika," katanya.
Jika misi berjalan sesuai rencana, Swift diperkirakan kembali menjalankan pengamatan ilmiah secara penuh pada musim gugur tahun ini. Keberhasilan tersebut juga dapat menjadi tonggak baru dalam pengembangan teknologi perawatan satelit di orbit, sehingga wahana antariksa di masa depan tidak selalu harus dipensiunkan ketika mengalami penurunan orbit.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....