Perlombaan Mencari Jejak Air di Bulan, Chang’e-7 VS VIPER
- 20 Jun 2026 15:52 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Persaingan antara Amerika Serikat dan China kini tidak hanya berlangsung di bidang ekonomi, teknologi, atau kecerdasan buatan (AI). Kedua negara juga mulai berlomba menguasai sumber daya yang diyakini akan menjadi kunci eksplorasi luar angkasa di masa depan, yaitu air di Bulan.
Jika Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) melalui program Artemis menargetkan pengiriman astronaut ke kutub selatan Bulan pada 2028, China berencana meluncurkan misi Chang'e-7 pada 2026 untuk mencari sumber air secara langsung di wilayah yang sama. Dikutip dari China Media Group, kutub selatan Bulan menjadi tujuan utama karena para ilmuwan meyakini kawasan tersebut menyimpan cadangan es air dalam jumlah besar.
Es diperkirakan berada di dasar kawah yang tidak pernah terkena sinar Matahari selama miliaran tahun. Kondisi yang sangat dingin membuat air dapat bertahan dalam bentuk es tanpa menguap ke luar angkasa.
Misi Chang'e-7 menjadi langkah penting bagi program antariksa China setelah keberhasilan Chang'e-6 pada 2025 yang berhasil membawa sampel dari sisi jauh Bulan ke Bumi. Berbeda dengan misi sebelumnya, Chang'e-7 akan fokus memetakan dan mengidentifikasi lokasi yang memiliki kandungan es air yang dapat dimanfaatkan pada masa depan.
Jika peluncuran berjalan sesuai rencana pada 2026, China berpotensi memperoleh data lebih awal dibanding misi VIPER milik NASA yang saat ini ditargetkan menuju Bulan pada akhir 2027. Bagi para ilmuwan, keberadaan air di Bulan bukan lagi hanya dugaan.
Berbagai misi dan pengamatan selama dua dekade terakhir telah menemukan bukti kuat adanya molekul air dan es di wilayah kutub. Tantangan terbesar saat ini adalah menentukan lokasi yang memiliki cadangan cukup besar dan mudah diakses untuk mendukung aktivitas manusia.
Air dicari di Bulan karena memiliki banyak fungsi vital. Selain dapat diolah menjadi air minum bagi astronaut, air juga bisa dipecah menjadi oksigen untuk bernapas dan hidrogen sebagai bahan bakar roket.
Teknologi ini dikenal sebagai in-situ resource utilization (ISRU), yaitu pemanfaatan sumber daya lokal untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Bumi. Mengingat biaya pengiriman satu kilogram muatan ke luar angkasa sangat mahal, keberadaan air lokal dapat memangkas biaya misi secara signifikan.
Untuk menjalankan pencarian tersebut, Chang'e-7 akan membawa berbagai instrumen ilmiah canggih, termasuk kamera resolusi tinggi, sensor inframerah, kamera hyperspectral, serta seismograf untuk mempelajari aktivitas geologi Bulan. Misi ini juga dirancang untuk menganalisis sampel tanah dan mengebor permukaan Bulan guna mencari jejak es yang tersembunyi di bawah lapisan regolit, yaitu debu dan batuan yang menutupi permukaan Bulan.
Salah satu lokasi yang disebut-sebut menjadi kandidat pendaratan adalah Kawah Shackleton di kutub selatan Bulan. Kawah ini telah lama menjadi perhatian para ilmuwan karena bagian dalamnya selalu berada dalam bayangan, sehingga berpotensi menyimpan es dalam jumlah besar. Namun hingga kini, China belum mengumumkan lokasi pendaratan secara resmi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....