Bug pada Software Jadi Celah Pencurian Kripto

  • 14 Sep 2026 11:07 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Kasus pencurian Bitcoin dari Liquid Network menunjukkan bahwa keamanan aset kripto tidak hanya bergantung pada penjagaan kunci privat. Kesalahan pada perangkat lunak yang menjalankan jaringan juga dapat membuka celah bagi peretas untuk memindahkan aset bernilai sangat besar.

Sekelompok peretas menggondol sekitar 320 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,76 triliun dalam bentuk Bitcoin dari Liquid Network. Mereka mengambil sekitar 4.000 BTC dari total 4.200 BTC yang tersimpan di dompet jaringan tersebut.

Liquid Network merupakan jaringan sampingan Bitcoin atau sidechain yang diluncurkan Blockstream pada 2018. Jaringan ini digunakan untuk membantu bursa kripto melakukan transaksi lebih cepat dengan memanfaatkan token L-BTC yang nilainya dijamin oleh cadangan Bitcoin. Yang membuat kasus ini berbeda adalah cara peretas masuk ke sistem. Insiden tersebut dipicu bug pada Elements, perangkat lunak yang digunakan untuk menjalankan node Liquid Network, bukan karena kunci privat atau perangkat penyimpanan Bitcoin berhasil dibobol.

Celah tersebut memungkinkan peretas membuat L-BTC melalui sistem Peg-out Authorization di SideSwap, salah satu platform perdagangan yang beroperasi di jaringan Liquid. SideSwap telah menyatakan bahwa sistem dan kunci pengamannya tidak dibobol sehingga sumber masalah berasal dari software Elements.

Begitu serangan diketahui, Liquid Network langsung menghentikan transaksi baru untuk membatasi dampak. Node penghubung atau bridge node dinonaktifkan, sedangkan layanan deposit dan penarikan L-BTC di sejumlah bursa juga dihentikan sementara.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa ketika sebuah celah ditemukan dalam jaringan kripto, menghentikan layanan dapat menjadi cara untuk mencegah kerugian bertambah. Blockchain memang dirancang agar transaksi sulit diubah, tetapi aplikasi dan perangkat lunak yang berada di sekitarnya tetap membutuhkan pembaruan keamanan.

Menariknya, pihak yang mengambil dana justru mengaku sebagai white hat hacker atau peretas yang berniat membantu. Dalam pesan on-chain, mereka meminta jaringan memperbaiki celah sebelum dana dikembalikan.

"Segera perbaiki dulu bug-nya. Jaringan ini masih berisiko di commit terbaru saat ini. Pastikan semua node sudah ditambal. Setelah itu kami akan mengembalikan dananya dengan aman setelah perbaikan dikonfirmasi," tulis peretas dalam pesan on-chain tersebut.

Komunikasi antara peretas dan Blockstream berlangsung sejak 6 September 2026 melalui pesan blockchain dan enkripsi PGP. Setelah proses perbaikan selesai, Blockstream kemudian mengonfirmasi bahwa node jembatan telah ditambal dan meminta dana dikembalikan.

"Bridge nodes sudah ditambal, aman untuk mengembalikan dananya," tulis pihak Blockstream, membalas permintaan sang peretas.

Sebagian besar dana akhirnya memang dikembalikan, tetapi belum seluruhnya. Sekitar 3.400 BTC atau sekitar 268 juta dollar AS telah kembali ke Liquid Network, sementara sekitar 598,5 BTC atau sekitar 47 juta dollar AS masih berada di tangan peretas.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa pembaruan keamanan harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya pada satu bagian jaringan. Pada ekosistem yang mengelola aset senilai ratusan juta dolar, satu celah software dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih besar daripada hanya gangguan teknis.

Menurut dokumentasi resmi Blockstream, Liquid memang menggunakan Elements sebagai perangkat lunak utama untuk menjalankan jaringan dan memiliki mekanisme khusus untuk memindahkan aset antara Bitcoin dan Liquid. (blockstream.com)

Karena itu, insiden tersebut bukan hanya soal berapa banyak Bitcoin yang dicuri atau dikembalikan. Kasus ini memperlihatkan bahwa semakin besar nilai aset digital yang dikelola sebuah jaringan, semakin penting pula pengujian kode, pemantauan keamanan, dan kecepatan menutup celah ketika masalah ditemukan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....