AI Palsu Jadi Pintu Masuk Hacker SilverFox ke Perusahaan di Indonesia

  • 27 Agt 2026 12:11 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Tren penggunaan kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja ternyata ikut dimanfaatkan kelompok peretas SilverFox untuk mencari korban baru. Dilansir dari Blog milik Kaspersky, Tim Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky menemukan kampanye yang menyebarkan aplikasi Claude palsu sebagai kedok untuk memasukkan malware ke perangkat perusahaan.

SilverFox merupakan kelompok Advanced Persistent Threat (APT) yang aktif memburu organisasi di kawasan Asia Pasifik dan sejumlah negara lain. Targetnya mencakup perusahaan di Indonesia, India, Afrika Selatan, dan Rusia, dengan sektor industri, konsultasi, perdagangan, serta transportasi ikut terdampak.

Sebelum memakai nama aplikasi AI, SilverFox lebih dulu mengandalkan cara lama yang masih efektif: email phishing. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, Kaspersky mencatat lebih dari 1.600 email berbahaya yang dibuat seolah-olah merupakan pemberitahuan audit pajak dan berisi dokumen palsu tentang "daftar pelanggaran pajak".

Kini, umpan tersebut berkembang mengikuti kebiasaan pengguna internet.

SilverFox diketahui menyebarkan aplikasi Claude palsu untuk Windows, macOS, dan Linux, sehingga korban yang ingin memasang alat AI justru berpotensi memasukkan malware ke perangkatnya.

“Analisis terbaru kami menunjukkan bahwa mereka sekarang mendistribusikan Claude palsu untuk memanfaatkan tren penggunaan AI di perusahaan guna meretas pertahanan keamanan target mereka,” ujar Ye Jin, Peneliti Keamanan Utama Kaspersky GreAT seperti dikutip pada Selasa, 25 Agustus 2026.

Ancaman ini menjadi lebih serius karena aplikasi AI semakin dekat dengan aktivitas pekerjaan dan data perusahaan. Kaspersky sendiri mencatat lebih dari 92.000 serangan malware atau aplikasi yang tidak diinginkan yang menyamar sebagai layanan AI terdeteksi sejak Januari hingga awal Mei 2026, dengan Claude dan Gemini masing-masing menyumbang 18 persen dari serangan tersebut.

Serangan SilverFox juga menunjukkan bahwa pelaku tidak harus selalu menciptakan umpan yang terlihat mencurigakan. Dengan menumpang pada nama layanan yang sedang populer, mereka dapat memanfaatkan rasa percaya pengguna terhadap teknologi AI, sementara aplikasi berbahaya bekerja di belakang layar.

Kaspersky sebelumnya juga menemukan kampanye lain yang menggunakan AI populer sebagai kedok malware. Pada Maret 2026, peneliti mengungkap penyebaran malware yang menyamar sebagai berbagai agen AI melalui iklan dan hasil pencarian, termasuk Claude Code, yang menunjukkan bahwa modus tersebut bukan kasus yang berdiri sendiri.

Bagi perusahaan, persoalannya tidak hanya meminta karyawan lebih teliti sebelum mengunduh aplikasi. Perusahaan perlu memastikan perangkat mendapatkan perlindungan keamanan berlapis, akses jaringan dibatasi sesuai kebutuhan, dan aplikasi AI hanya dipasang dari sumber resmi.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Pengguna juga sebaiknya tidak langsung percaya pada aplikasi AI yang ditemukan melalui tautan email, iklan, atau situs yang tidak jelas. Anthropic sendiri menyediakan Claude melalui kanal resminya, termasuk aplikasi desktop untuk Windows dan macOS, sehingga sumber unduhan perlu diperiksa sebelum instalasi.

Kaspersky merekomendasikan pendekatan seperti threat hunting berbasis AI, arsitektur Zero Trust, perlindungan menyeluruh dari perangkat hingga data, serta pemanfaatan AI untuk mendeteksi dan merespons serangan secara cepat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....