Gunakan Kode Morse untuk Bobol AI, Aset Kripto Rp 3,4 Miliar ’Hilang’
- 08 Mei 2026 08:35 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Dunia kecerdasan buatan kembali digemparkan dengan dugaan pembobolan sistem AI Grok milik xAI. Dalam insiden ini, aset kripto senilai sekitar Rp 3,4 miliar dilaporkan berhasil dicuri setelah AI dimanipulasi menggunakan kode Morse.
Kasus ini ramai diperbincangkan di media sosial setelah seorang pengguna diduga berhasil mengecoh sistem AI agar melakukan transfer otomatis. Pelaku bahkan disebut-sebut berasal dari Indonesia berdasarkan aktivitas akun yang beredar di platform X.
Aksi tersebut melibatkan dua sistem AI sekaligus, yaitu Grok dan Bankrbot. Bankrbot sendiri merupakan sistem perdagangan otomatis yang terhubung langsung dengan dompet aset kripto digital pengguna.
Dilansir dari Dexerto pada 8 Mei 2026, pelaku berhasil mendapatkan sekitar 3 miliar token DRB senilai 200.000 dollar AS atau sekitar Rp 3,4 miliar. Token tersebut ditransfer melalui jaringan blockchain Base setelah AI menjalankan instruksi tersembunyi tanpa disadari sistem keamanan.
Modus yang digunakan terbilang unik dan cukup canggih karena memanfaatkan kode Morse. Pelaku meminta AI Grok menerjemahkan pesan kode Morse yang tampak biasa, padahal di dalamnya terdapat instruksi rahasia untuk mengirim aset kripto ke dompet tertentu.
Sebelum serangan dilakukan, pelaku disebut lebih dulu mengirim NFT “Bankr Club Membership” ke dompet Grok. Langkah ini diduga membuat AI memperoleh izin tambahan untuk melakukan transaksi dan pertukaran aset digital di sistem Bankrbot.
Setelah kode Morse diterjemahkan, sistem AI menganggap isi pesan tersebut sebagai perintah yang sah. Bankrbot kemudian langsung menjalankan transfer miliaran token DRB ke alamat dompet pelaku secara otomatis.
Tidak lama setelah menerima aset kripto, token tersebut langsung dijual di pasar. Penjualan besar-besaran itu sempat memicu gejolak harga token DRB dalam waktu singkat di pasar kripto.
Sejumlah pengguna media sosial menduga pelaku berasal dari Indonesia. Dugaan itu muncul dari bahasa yang digunakan akun terkait dan aktivitasnya di komunitas kripto lokal, meski identitas asli pelaku belum terungkap.
Pakar keamanan siber sebenarnya sudah lama memperingatkan ancaman “prompt injection”. Teknik ini memungkinkan pelaku menyisipkan instruksi tersembunyi agar AI menjalankan tindakan tertentu tanpa disadari sistem.
Kasus dugaan pembobolan Grok ini dianggap sebagai contoh nyata bahaya prompt injection di era AI modern. Apalagi, sistem AI kini mulai banyak terhubung langsung dengan layanan finansial dan transaksi aset digital bernilai besar.
Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bahwa kecerdasan buatan masih memiliki celah keamanan serius. Tanpa pengawasan dan pembatasan ketat, AI berpotensi dimanfaatkan untuk aksi kejahatan siber yang merugikan banyak pihak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....