Dugaan Modus Pencurian Data Terbaru, Juice Jacking
- 15 Apr 2026 13:49 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Meskipun dinilai sebagai ancaman teknis yang patut diwaspadai, risiko juice jacking di dunia nyata dianggap tidak setinggi yang sering digambarkan.
- Pengguna disarankan menggunakan power bank pribadi, membawa adaptor sendiri, atau memilih opsi "charge only" untuk meminimalkan risiko.
- Juice jacking adalah modus kejahatan siber yang memanfaatkan port USB publik untuk mencuri data atau menyisipkan malware, memicu peringatan resmi dari FBI dan FCC.
RRI.CO.ID, Denpasar – Fasilitas pengisian daya ponsel di stasiun pengisian gratis di bandara, mal, atau kafe kini semakin mudah ditemukan. Sekilas fasilitas ini memang praktis, tetapi di balik kemudahannya tersimpan risiko keamanan siber terbaru.
Salah satu ancaman tersebut dikenal sebagai Juice jacking, yaitu modus kejahatan yang memanfaatkan port USB publik untuk mencuri data atau menyisipkan malware ke perangkat. Risiko ini muncul karena kabel dan port USB tidak hanya menyalurkan listrik, tetapi juga dapat menjadi jalur transfer data tanpa sepengetahuan pengguna.
Istilah ini kembali menjadi sorotan setelah Federal Bureau of Investigation melalui kantor lapangannya di Denver, Amerika Serikat, pada April 2023 mengeluarkan peringatan resmi. FBI mengimbau masyarakat agar menghindari penggunaan stasiun pengisian daya gratis di tempat umum karena pelaku telah menemukan cara untuk menyisipkan malware dan perangkat lunak pemantau melalui port USB publik.
Peringatan serupa juga diperkuat oleh Federal Communications Commission yang mengklasifikasikan juice jacking sebagai salah satu taktik pencurian siber yang perlu diwaspadai. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terlihat sederhana, port USB publik bisa menjadi celah serius dalam keamanan digital.
Secara teknis, ancaman ini muncul karena kabel dan port USB memiliki fungsi ganda, yaitu mengalirkan daya sekaligus menjadi jalur perpindahan data. Jika port tersebut telah dimodifikasi atau disusupi, perangkat yang terhubung dapat memberikan akses data tanpa sepengetahuan pengguna.
Pada skenario serangan ini, port USB yang tampak seperti pengisi daya biasa ternyata telah dimodifikasi untuk mentransfer data, bukan untuk menghantarkan listrik. Kondisi ini membuat perangkat yang terhubung berpotensi membuka akses data tanpa disadari oleh pemiliknya.
Dalam kasus terburuk, pelaku dapat memasang malware, mencuri berkas dan kata sandi, hingga mengunci perangkat korban. Dampak ini tentu tidak hanya merugikan secara teknis, tetapi juga berpotensi mengancam privasi dan keamanan informasi pribadi.
Meski demikian, sejumlah pakar keamanan siber menilai bahwa risiko juice jacking di dunia nyata tidak sebesar yang sering digambarkan. Laporan dari AARP menyebut bahwa peringatan FBI lebih bersifat imbauan kewaspadaan, bukan karena adanya lonjakan kasus besar yang terbukti meluas.
Namun, secara teknis ancaman ini tetap mungkin terjadi, terutama jika perangkat tidak diperbarui atau memiliki celah keamanan. Pada perangkat modern, koneksi USB biasanya dibatasi hanya untuk pengisian daya kecuali pengguna secara manual mengizinkan transfer data.
Karena itu, pengguna disarankan selalu memilih opsi “charge only” saat muncul notifikasi koneksi USB. Langkah sederhana ini dapat membantu mencegah akses data yang tidak diinginkan.
Selain itu, membawa adaptor dan kabel pribadi serta menggunakan stop kontak langsung menjadi pilihan yang lebih aman. Alternatif lain seperti power bank dan USB data blocker juga dapat digunakan untuk meminimalkan risiko.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....