Penyebab Orang Terkena Social Engineering dan Tips Menghindarinya
- 26 Feb 2026 07:38 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Banyaknya orang yang menjadi korban social engineering bukan karena kurang cerdas, melainkan karena sifat dasar manusia yang ingin membantu dan sosialis. Pelaku memanfaatkan kondisi emosional tertentu untuk membuat korban bertindak cepat tanpa berpikir panjang.
Dilansir dari berbagai sumber, salah satu penyebab utama adalah kurangnya literasi keamanan digital. Banyak pengguna internet belum memahami pola serangan seperti phishing atau pretexting sehingga sulit mengenali tanda-tanda bahaya.
Faktor psikologis seperti rasa takut dan urgensi juga berperan besar dalam keberhasilan serangan. Ketika seseorang menerima pesan ancaman penutupan akun atau denda mendadak, respons emosional sering kali mengalahkan logika.
Selain itu, kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial dapat memperbesar risiko. Data seperti tanggal lahir, jabatan, atau aktivitas harian dapat digunakan pelaku untuk menyusun skenario yang sangat meyakinkan.
Budaya kerja yang tidak menekankan verifikasi juga menjadi faktor penyebab di lingkungan organisasi. Karyawan yang tidak terbiasa mengonfirmasi permintaan sensitif cenderung lebih mudah dimanipulasi oleh pelaku yang menyamar sebagai atasan atau staf IT.
Untuk menghindari social engineering, langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran dan sikap skeptis terhadap setiap permintaan yang tidak biasa. Verifikasi melalui saluran resmi yang terpisah sangat penting sebelum memberikan informasi sensitif atau melakukan transfer dana.
Penggunaan autentikasi multifaktor dan kata sandi yang kuat dapat meminimalkan dampak jika kredensial bocor. Pembaruan perangkat lunak secara rutin juga membantu mencegah eksploitasi melalui tautan atau lampiran berbahaya.
Hindari mengklik tautan dari pesan yang mencurigakan dan periksa alamat pengirim secara teliti. Jika ragu, lebih baik mengakses situs resmi dengan mengetik alamatnya langsung di peramban.
Pelatihan keamanan siber secara berkala terbukti efektif dalam menurunkan tingkat keberhasilan serangan rekayasa sosial. Edukasi keamanan dapat meningkatkan kemampuan individu dalam mengidentifikasi email phishing.
Selain itu, pentingnya faktor kesadaran dan kontrol diri dalam mencegah manipulasi sosial. Temuan ini menegaskan bahwa perlindungan terbaik bukan hanya teknologi, tetapi juga kesiapan mental dan kebiasaan yang disiplin.