Pemasaran Laptop pada 2027 diprediksi Semakin Kompetitif

  • 19 Sep 2026 10:31 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan pasar laptop Indonesia pada 2027 masih memiliki prospek, meskipun pertumbuhannya tidak akan mudah. Menurutnya, kenaikan harga laptop akibat tekanan harga komponen, terutama memori, akan membuat konsumen semakin selektif dalam melakukan pembelian.

Dilansir dari keterangan persnya, Heru mengatakan konsumen kemungkinan akan menggunakan laptop lebih lama dan melakukan pembelian ketika perangkat benar-benar dibutuhkan. Diprediksi, pasar laptop pada 2027 akan lebih menantang karena pertumbuhannya lebih banyak ditentukan oleh kebutuhan nyata dibandingkan keinginan untuk melakukan upgrade.teknologi.

Menurutnya, laptop gaming juga relatif lebih sensitif terhadap kenaikan harga karena konsumen di segmen tersebut umumnya sangat memperhatikan aspek value for money. Ketika harga naik, konsumen memiliki sejumlah pilihan selain tidak membeli, seperti menurunkan spesifikasi perangkat atau menunda pembelian hingga tersedia promo.

Meski demikian, Heru mengatakan gamer enthusiast tetap memiliki willingness to pay untuk mendapatkan performa tinggi. Oleh karena itu, tekanan terbesar diperkirakan terjadi pada segmen kelas menengah.

“Produsen perlu menyediakan konfigurasi yang fleksibel agar konsumen tidak merasa harus membayar mahal untuk spesifikasi yang sebenarnya tidak mereka butuhkan,” kata Heru. Heru menilai persaingan pasar laptop pada tahun depan juga tidak akan semata-mata mengandalkan perang harga karena ruang margin produsen semakin terbatas.

Menurutnya, strategi yang lebih efektif adalah menawarkan value terbaik pada setiap kelas harga. Hal itu dapat dilakukan melalui kombinasi spesifikasi yang tepat, efisiensi energi, daya tahan baterai, kemampuan AI, layanan purnajual, garansi, hingga kemudahan upgrade.

Selain itu, produsen juga perlu memperkuat strategi bundling dan promosi, termasuk melalui skema cicilan, trade-in, serta program khusus untuk pelajar dan pekerja. “Dan yang penting, jangan sampai kenaikan harga hanya diterjemahkan sebagai pemotongan spesifikasi,” kata Heru.

“Hal itu konsumen Indonesia semakin kritis dimana mereka akan membandingkan harga versus manfaat, bukan cuma merek,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....