Ketika Kantor Bisa Berpindah, Mengenal Gaya Hidup Digital Nomad di Bali
- 30 Agt 2026 19:07 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Bekerja tidak selalu berarti datang ke kantor setiap pagi, duduk di meja yang sama, lalu pulang pada sore hari. Perkembangan teknologi membuat sebagian pekerjaan dapat dilakukan dari berbagai tempat, termasuk oleh orang-orang yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain sambil tetap menjalankan pekerjaannya.
Mereka dikenal sebagai digital nomad, yakni pekerja yang memanfaatkan teknologi digital untuk bekerja dari berbagai lokasi sekaligus menjalani gaya hidup yang melibatkan mobilitas atau perjalanan. Dalam penelitian akademik, digital nomad umumnya dipahami sebagai pekerja dengan pekerjaan yang tidak bergantung pada lokasi tertentu, sehingga dapat menggabungkan pekerjaan jarak jauh dengan perjalanan dan perpindahan tempat.
Artinya, digital nomad tidak selalu berarti seseorang sedang berlibur sambil sesekali membuka laptop. Mereka tetap memiliki pekerjaan, tanggung jawab, tenggat waktu, hingga pertemuan dengan klien atau rekan kerja, tetapi lokasi untuk menjalankan pekerjaan tersebut tidak harus berada di kantor tetap.
Bali menjadi salah satu contoh tempat yang menarik untuk melihat pola tersebut karena pulau ini telah menjadi salah satu tujuan bagi pekerja yang menjalankan gaya hidup berbasis mobilitas. Sejumlah kawasan juga memiliki fasilitas seperti ruang kerja bersama atau coworking space, koneksi internet, tempat tinggal sementara, serta lingkungan yang dapat mendukung aktivitas kerja dan kehidupan sehari-hari.
Fenomena tersebut bahkan mulai menjadi perhatian dalam penelitian mengenai pariwisata di Bali. Studi yang diterbitkan dalam Jurnal Kajian Bali pada Agustus 2026 mengamati rural digital nomadism, atau gaya hidup digital nomad di wilayah perdesaan, sebagai salah satu pendekatan eksploratif untuk pengembangan pariwisata di Kelecung Eco Village, Tabanan.
Penelitian tersebut menggunakan wawancara, diskusi kelompok, observasi partisipatif, serta survei untuk melihat kemungkinan penerapan konsep tersebut di Kelecung Eco Village. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang menggabungkan co-living, co-working, dan pengalaman budaya sempat membantu memperpanjang masa tinggal pengunjung serta mendiversifikasi pendapatan rumah tangga, meski masih menghadapi sejumlah kendala.
Namun, kehidupan sebagai digital nomad tidak sesederhana bekerja dengan latar pemandangan indah. Literatur mengenai digital nomadism menunjukkan bahwa kebebasan menentukan lokasi kerja juga dapat membuat batas antara pekerjaan, waktu luang, dan perjalanan menjadi lebih kabur, sehingga kemampuan mengatur waktu menjadi penting.
Pilihan tempat juga tidak hanya ditentukan oleh keindahan suatu daerah. Ketersediaan internet, fasilitas pendukung pekerjaan, karakter lingkungan, biaya hidup, serta kesempatan berinteraksi dengan masyarakat dan komunitas lain menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pengalaman digital nomad di suatu tempat.
Pada akhirnya, digital nomad menunjukkan bahwa hubungan antara pekerjaan dan tempat kini dapat menjadi lebih fleksibel bagi orang yang memiliki pekerjaan yang tidak bergantung pada lokasi tertentu. Bali menjadi salah satu gambaran dari perubahan tersebut, ketika sebuah tempat yang dikenal sebagai tujuan wisata juga dapat menjadi ruang bagi sebagian orang untuk bekerja, tinggal sementara, dan menjalani keseharian dengan cara yang berbeda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....