Mengapa Scroll Video Pendek Bikin Kita Betah?

  • 30 Agt 2026 22:27 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Pernah berniat menonton satu video pendek, tetapi akhirnya terus menggulir layar tanpa terasa? Sebuah penelitian dari Zhejiang University, China, menunjukkan bahwa rasa betah tersebut berkaitan dengan perubahan aktivitas pada bagian otak yang mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan.

Penelitian yang diterbitkan secara daring di jurnal NeuroImage pada Januari 2026 menggunakan dua metode pemindaian otak, yakni fMRI dan proton magnetic resonance spectroscopy (¹H-MRS). Studi tersebut ingin melihat apa yang terjadi pada otak ketika seseorang menonton video yang disukai dan memilih untuk menontonnya sampai selesai.

Peneliti melibatkan 66 sukarelawan, tetapi setelah beberapa peserta dikeluarkan karena masalah kualitas data, analisis akhirnya dilakukan terhadap 56 orang dewasa muda dengan rata-rata usia 23,3 tahun. Peserta menonton berbagai video pendek saat berada dalam pemindai MRI dan boleh melewati video yang tidak menarik bagi mereka.

Video yang ditonton sampai selesai dianggap sebagai video yang disukai, sedangkan video yang dilewati sebelum separuh durasinya dianggap tidak disukai. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika peserta menikmati video favorit, aktivitas dua bagian otak bernama dACC dan dlPFC turun secara signifikan.

Kedua bagian tersebut termasuk dalam jaringan kontrol kognitif, yaitu sistem yang membantu manusia mempertahankan fokus, mengatasi gangguan, menilai pilihan, dan mengendalikan perilaku. Sederhananya, ketika sedang menikmati sesuatu, otak tampaknya tidak perlu bekerja sekeras saat menghadapi aktivitas yang membutuhkan banyak pertimbangan.

Penurunan aktivitas tersebut bukan berarti otak berhenti bekerja atau mengalami kerusakan. Buktinya, bagian otak yang bertugas memproses penglihatan, yaitu korteks visual primer atau V1, tetap aktif ketika peserta menonton kedua jenis video.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa perubahan yang ditemukan lebih berkaitan dengan sistem kontrol kognitif daripada hanya aktivitas menonton layar. Peneliti juga menemukan hubungan antara dACC dan dlPFC menjadi lebih kuat ketika peserta menonton video yang mereka sukai.

Kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan pengalaman flow, ketika seseorang begitu larut dalam aktivitas sampai tidak terlalu menyadari proses berpikirnya sendiri. Dalam keadaan seperti ini, aktivitas dapat terasa berjalan otomatis karena perhatian sudah sangat terserap oleh hal yang sedang dilakukan.

Peneliti kemudian melihat apakah perubahan tersebut berkaitan dengan kondisi kimiawi di otak. Mereka mengukur kadar glutamat dan GABA di dACC menggunakan ¹H-MRS sebelum peserta menonton video.

Hasilnya menunjukkan bahwa peserta dengan kadar glutamat lebih tinggi cenderung mengalami penurunan aktivitas dACC yang lebih kecil. Sementara itu, kadar GABA tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perubahan aktivitas dACC maupun dlPFC.

Glutamat sendiri merupakan salah satu neurotransmiter utama yang berperan dalam komunikasi antarsel saraf. Temuan ini tidak berarti glutamat menyebabkan seseorang kecanduan video pendek, tetapi menunjukkan adanya hubungan antara kondisi neurokimia otak dan respons terhadap konten yang disukai.

Jawabannya belum bisa disimpulkan demikian. Penelitian ini hanya mengamati aktivitas otak peserta dalam satu sesi dan tidak membuktikan bahwa menonton video pendek menyebabkan kerusakan otak atau menurunkan konsentrasi dalam jangka panjang.

Para peneliti juga mengakui bahwa menganggap video yang ditonton sampai selesai sebagai "disukai" memiliki keterbatasan. Seseorang bisa saja menyelesaikan video karena penasaran, bukan karena benar-benar menyukainya.

Meski begitu, penelitian ini memberikan gambaran menarik tentang alasan kita bisa begitu mudah larut dalam konten pendek. Saat video terasa menarik, otak tampaknya dapat mengurangi keterlibatan beberapa sistem yang biasanya membutuhkan usaha untuk mengontrol perhatian dan mengambil keputusan.

Hasil penelitian ini bukan peringatan bahwa setiap video pendek akan "merusak otak". Temuan tersebut lebih tepat dipahami sebagai petunjuk bahwa ketika kita sangat menikmati suatu konten, otak dapat berpindah ke mode pemrosesan yang terasa lebih otomatis dan membutuhkan lebih sedikit usaha kognitif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....