Mengenal Grammatophyllum, Pesona Anggrek Raksasa Eksotis Asli Indonesia
- 13 Jul 2026 13:52 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Anggrek Grammatophyllum dikenal sebagai salah satu genus anggrek terbesar di dunia, tanaman epifit asli Asia Tenggara, khususnya Indonesia ini selalu berhasil mencuri perhatian para kolektor dan pencinta tanaman berkat ukurannya yang masif dan corak bunganya yang eksotis.
Bagi masyarakat awam, anggrek biasanya identik dengan tanaman pot kecil yang manis. Namun, Grammatophyllum mendobrak stigma tersebut dengan menampilkan rumpun raksasa yang gagah, menjadikannya salah satu mahakarya terbaik dari keluarga Orchidaceae.
Di antara beberapa spesies dalam genus ini, ada dua nama yang paling melegenda dan menjadi buruan utama para kolektor:
Grammatophyllum speciosum (Anggrek Tebu / Anggrek Macan):
Ini adalah spesies anggrek terbesar di dunia. Rumpunnya bisa tumbuh hingga setinggi 3 meter dengan berat mencapai ratusan kilogram hingga 1 ton dalam satu koloni matang. Bunganya berwarna kuning cerah dengan totol-totol cokelat tua kemerahan yang menyerupai corak kulit macan, sehingga sering disebut Anggrek Macan.
Grammatophyllum scriptum (Anggrek Aksara / Anggrek Tulisan):
Ukurannya lebih kompak dibandingkan anggrek tebu, namun daya tariknya tidak kalah memikat. Spesies ini dinamakan scriptum karena corak kecokelatan pada kelopak bunganya yang berwarna hijau-kekuningan sekilas menyerupai guratan huruf atau aksara kuno yang unik.
Selain ukuran fisiknya yang raksasa, Grammatophyllum memiliki beberapa keunikan biologis yang membuatnya sangat istimewa:
Salah satu alasan mengapa anggrek ini sangat dihargai adalah masa mekarnya. Sekali mekar, bunga Grammatophyllum dapat bertahan segar di tangkainya selama 2 hingga 3 bulan.
Satu tangkai bunga (spike) yang keluar dari sela-sela pseudobulb (batang semu) dapat tumbuh memanjang hingga 1–2 meter dan menggendong puluhan hingga ratusan kuntum bunga sekaligus.
Mereka memiliki sistem perakaran unik yang tumbuh ke atas di sekitar pangkal batang. Akar-akar kaku ini berfungsi seperti keranjang alami untuk menangkap guguran daun dan serasah hutan sebagai sumber nutrisi mereka di alam liar.
Karena habitat aslinya di hutan-hutan Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Papua terus menyusut akibat deforestasi dan perburuan liar, beberapa spesies Grammatophyllum, terutama Anggrek Tebu (G. speciosum) kini termasuk dalam daftar tanaman yang dilindungi oleh undang-undang di Indonesia. Beruntung, saat ini sudah banyak laboratorium botani dan penangkar resmi yang berhasil membiakkannya lewat metode kultur jaringan.
Meskipun terlihat intimidatif karena ukurannya, merawat Grammatophyllum sebenarnya relatif mudah asalkan kebutuhannya terpenuhi, dikutip dari chanel Tunas Anggrek Fajar.
Cahaya Matahari: Berbeda dengan anggrek rumahan yang manja, anggrek raksasa ini menyukai paparan cahaya matahari yang cukup tinggi (sekitar 50–70%) agar rajin berbunga.
Media Tanam : Gunakan media yang memiliki drainase sangat baik seperti cacahan pakis, arang kayu, atau potongan kulit kayu pinus, karena akarnya tidak boleh terendam air terlalu lama. Penggunaan arang sekam dicampur dengan pupuk kohe akan membuat pertumbuhannya maksimal.
Sirkulasi Udara: Sebagai tanaman epifit, mereka sangat bergantung pada hembusan angin yang lancar untuk menjaga kelembaban di sekitar perakaran.
Anggrek Grammatophyllum adalah bukti nyata dari kemegahan alam tropis Indonesia. Memiliki atau sekadar menikmati keindahan mekarnya adalah sebuah pengalaman yang menakjubkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....