Membedah Tantangan Wisata Minat Khusus dan Fenomena Pendakian Masa Kini
- 27 Mei 2026 09:58 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID - Kegiatan mendaki gunung memiliki karakteristik yang jauh berbeda jika disandingkan dengan wisata umum atau rekreasi santai pada umumnya. Perbincangan dalam acara Afternoon Tea bersama APGI, Yuanita Leisbuana menerangkan pendakian tergolong sebagai wisata minat khusus karena melibatkan kompetensi tertentu.
Ia menggarisbawahi sektor ini berfokus pada keselamatannya, edukasi, kualitas pelayanan. Kalau naik gunung perlu persiapan yang matang, bukan mengejar puncak saja tapi kembali dengan selamat.
Kebutuhan akan perencanaan yang matang ini kian mendesak tatkala melihat animo masyarakat yang melonjak tajam, seperti yang terjadi di Pulau Dewata. Perwakilan APGI Bali, I Ketut Mudiada, mengamati tren pendakian gunung di Bali melesat sangat signifikan sejak era pandemi Covid 19, di mana ruang terbuka menjadi pelarian favorit warga lokal. Destinasi seperti Gunung Agung dan Gunung Batur semakin populer dan menjadi primadona baru yang pesonanya bersaing ketat dengan wisata pantai.
Sayangnya, lonjakan minat yang masif ini kerap kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang utuh mengenai karakteristik medan gunung yang dinamis. I Ketut Mudiada, yang juga berkecimpung sebagai aktivis relawan rescue di Bali, membeberkan dinamika yang kerap ia jumpai di lapangan.
"Kecelakaan di gunung, perlu bantuan, minatnya sedang tinggi tapi persiapannya kurang, nah itu yang jadi tantangan kita, dengan persiapan minim sekali," tuturnya saat menyoroti banyaknya pendaki yang nekat berangkat tanpa modal kesiapan memadai.
Kondisi tersebut kian diperparah oleh adanya pergeseran prioritas di kalangan pendaki muda atau Gen Z saat ini. Masih dalam kesempatan dialog yang sama, Yuanita Leisbuana menyayangkan pola pikir sebagian anak muda yang cenderung mementingkan aspek visual demi konten media sosial ketimbang aspek keselamatan. "Gen z mendaki gunung ada yang gak bawa P3K tapi malah kotak makeup, dan waktu persiapannya singkat, padahal perlu kesiapan fisik dan pengetahuan tentang gunung tersebut," ungkap Yuanita.
Realitas di lapangan ini menjadi refleksi sekaligus peringatan bagi para pencinta alam terbuka. Seindah apa pun pemandangan yang ditawarkan, gunung tetaplah area liar yang menyimpan risiko fatal apabila dihadapi dengan sikap meremehkan.
Pesan yang digaungkan oleh APGI yaitu saatnya mengubah orientasi mendaki, dari yang semula hanya sekadar ambisi mencapai puncak, menjadi sebuah perjalanan yang matang dengan mengutamakan kesiapan fisik, wawasan, serta kepulangan yang selamat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....