“Death Trap”- Tersesat di Gunung, Sungai Bukan Solusi
- 19 Feb 2026 13:58 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Mendaki Gunung merupakan salah satu hobi yang memiliki banyak peminat. Bahkan saat ini, mendaki menjadi sebuah trend dikalangan anak muda.
Kegiatan mendaki merupakan aktivitas fisik luar ruangan yang menantang, menggabungkan petualangan, olahraga kardiovaskular, dan pelepas penat setelah melakukan aktivitas harian. Mendaki sangat bermanfaat bagi para pencintanya, selain membakar kalori dan meningkatkan kebugaran, hobi ini memberikan ketenangan mental, meningkatkan kreativitas, serta memperkuat solidaritas sesama pendaki.
Dalam dunia pendakian, terdapat istilah yang dikenal dengan nama “death trap”. Death trap atau jebakan maut dalam pendakian adalah situasi atau medan berbahaya yang mengancam nyawa, terutama akibat mengikuti aliran sungai (jebakan air terjun), hipotermia karena cuaca ekstrem, dan terjebak di tebing terjal tanpa jalan keluar.
Dikutip dari narasi video instagram @puncakcerita, sungai di gunung merupakan jalur vertikal, bukan jalur manusia. Air selalu mencari titik terendah dengan cara tercepat. Artinya, tebing curam, jurang sempit, turunan ekstrem dan air terjun tersembunyi. Yang terlihat seperti “jalan turun” bisa berubah menjadi drop vertikal puluhan meter tanpa jalur alternatif.
Selain sungai merupakan jalur vertikal, batu licin, lumut serta air merupakan kombinasi yang mematikan saat melewati jalur sungai. Permukaan di alur sungai gunung basah terus-menerus, ditumbuhi lumut dan tidak stabil. Akibatnya, pendaki bisa tergelicir, keseleo, jatuh ke celah batu dan terbentur arus deras.
Biasanya, alur air berada di lembah. Lembah cenderung dingin, lebih lembab, kurang paparan sinar matahari dan terdapat angin mengalir seperti lorong. Hal ini beresiko mengalami hipotermia. Banyak korban tersesat meninggal karena mengalami hipotermia, bukan karena lapar.
Saat menyusuri sungai, energi cepat habis. Menyusuri sungai berarti melompati batu, naik turun di permukaan licin serta fokus untuk menjaga keseimbangan. Dalam survival, energy adalah asset utama. Perlu untuk diketahui bahwa dijalur air, energi terkuras sangat cepat. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat tersesat, Tim SAR akan lebih sulit untuk menemukan kita. Tim SAR biasanya menyisir jalur pendakian, menyisir punggungan dan mencari titik terbuka. Lembah sungai sulit diakses, berbahaya untuk evakuasi dan tertutup vegetasi. Jika jatuh ke jurang sungai, peluang ditemukan lebih cepat jadi lebih kecil.
Dalam mendaki hal terpenting adalah bukan sekadar mencapai puncak (summit), melainkan menikmati proses perjalanan dan pulang dengan selamat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....