Literasi Rendah, Ini Dampaknya Bagi Sebuah Bangsa Di Masa Depan
- 16 Jul 2024 19:35 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar: Membaca merupakan sebuah kegiatan yang akrab didengar, namun jarang dilakukan. Menurut UNESCO, Indonesia berada pada urutan kedua dari bawah dalam hal literasi, yang menunjukkan minat baca di Indonesia sangat rendah. Hanya 0,001% masyarakat Indonesia yang rajin membaca, artinya hanya 1 dari 1.000 orang. Selain itu, sebuah penelitian oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 juga menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca.
Lebih lanjut, Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) tahun 2016 juga mengungkapkan bahwa kemampuan literasi di Indonesia tergolong rendah. Rendahnya literasi ini membawa berbagai dampak negatif, terutama bagi masyarakat lintas generasi di era digitalisasi. Salah satu dampaknya menurut penelitian AKSI di 2016 adalah menurunnya sikap toleransi yang dimiliki seseorang. Hal ini secara nyata diperkirakan mempengaruhi penyebab jumlah cekcok antar kelompok meningkat, karena banyak orang mudah tersinggung.
Selain itu, rendahnya minat baca juga diikuti dengan rendahnya tingkat pemahaman individu akan sebuah wacana. Beberapa perseteruan yang terjadi di sosial media, beberapa diakibatkan karena rendahnya pemahaman individu yang berinteraksi. Kesalah-pahaman ini yang kemudian umum berujung pada tindakan anarkis dan diskriminatif, yang terjadi pada dasarnya akibat kurang memahami isi atau konten yang beredar di media.
Selain itu, rasa cinta tanah air mulai luntur, menyebabkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai budaya bangsa sendiri tergeser oleh budaya bangsa lain. Rendahnya literasi juga dalam jangka panjang akan mempengaruhi stabilitas nasional, meningkatkan risiko perpecahan masyarakat akibat kebencian dan prasangka yang muncul karena kurangnya pemahaman terhadap keberagaman bangsa.
Selain itu, rendahnya literasi menghambat kemampuan seseorang dalam memperoleh pendidikan berkualitas karena sulit memahami materi pelajaran dan perkembangan pendidikan. Literasi yang rendah juga sering kali terkait dengan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi, karena individu dengan literasi rendah kesulitan mengakses pekerjaan yang layak dan mendapatkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Memilih buku dengan topik yang benar-benar menarik minat bisa membuat membaca menjadi lebih menyenangkan. Mulai dengan target kecil, seperti membaca selama 10-15 menit setiap hari, bisa membantu membentuk kebiasaan membaca secara perlahan. Menyediakan tempat yang nyaman dan tenang untuk membaca bisa meningkatkan kenyamanan dan konsentrasi. Bagi yang merasa repot membawa buku fisik, buku elektronik bisa menjadi solusi praktis. Membaca melalui aplikasi di ponsel atau tablet bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....