Fenomena Spender Gim: Berburu Kepuasan Virtual hingga Jutaan Rupiah

  • 11 Sep 2026 11:12 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Di balik pesatnya pertumbuhan industri gim digital di Indonesia, terjadi pergeseran pola konsumsi yang cukup signifikan di kalangan pemain. Jika dahulu hiburan gim identik dengan pembelian sekali bayar untuk kepemilikan utuh (pay-once), kini model bisnis free-to-play (F2P) yang dilengkapi sistem in-game purchase atau mikrotransaksi telah menguasai pasar.

Fenomena ini melahirkan kelompok pemain khusus yang dikenal sebagai spender atau whale yakni para individu yang rela merogoh kocek hingga jutaan, bahkan puluhan juta rupiah, demi membeli item virtual di dalam gim.

Di Indonesia, fenomena spender paling marak ditemui pada gim bergenre Role Playing Game (RPG), Massively Multiplayer Online (MMO), hingga gacha populer seperti Genshin Impact, Honkai: Star Rail, Mobile Legends, hingga gim RPG berbasis mobile dan PC lainnya. Para pemain ini mengalokasikan anggaran fantastis untuk membeli mata uang digital, skin kostum karakter edisi terbatas, senjata langka, hingga menambah kesempatan (pulling) untuk mendapatkan karakter favorit.

Berdasarkan data dari laporan industri Newzoo dan survei perilaku konsumen Google & Temasek e-Conomy SEA, rata-rata pengeluaran bulanan seorang gamer di Indonesia yang tergolong dalam kategori medium to heavy spender berkisar antara Rp500.000 hingga Rp3.500.000 per bulan. Bahkan, pada segmen high spender atau whale dalam gim RPG/Gacha berstabilitas tinggi, pengeluaran rutin dapat menembus Rp10.000.000 hingga lebih dari Rp50.000.000 per tahun hanya untuk satu judul gim.

Beberapa faktor utama yang mendorong maraknya fenomena pengeluaran fantastis ini di tanah air antara lain:

1. Mekanik Gacha dan Efek Dopamine: Sistem undian acak (gacha) dalam gim RPG memanfaatkan prinsip psikologis intermittent rewards. Sensasi ketidakpastian saat melakukan pemutaran undian dan kepuasan tinggi saat berhasil mendapatkan item langka (rare/SSR) memicu pelepasan hormon dopamin, yang kerap membuat pemain terdorong untuk terus mencoba.

2. Status Sosial dan Pengakuan Komunitas: Memiliki penampilan karakter yang estetik, senjata berefek visual mewah, atau tingkat kekuatan (power/rating) tertinggi di papan peringkat (leaderboard) memberikan kepuasan serta rasa percaya diri tersendiri bagi pemain saat berinteraksi di dalam komunitas maupun media sosial.

3. Faktor Efisiensi Waktu (Pay-to-Fast): Bagi pekerja profesional atau individu berpenghasilan yang memiliki waktu luang terbatas, mengeluarkan uang menjadi solusi praktis untuk mempercepat progres permainan (skipping the grind) tanpa harus menghabiskan puluhan jam mengumpulkan sumber daya secara manual.

4. Rasa Memiliki dan Loyalitas pada Karakter: Narasi cerita dan desain karakter dalam gim RPG modern dirancang sangat mendalam. Hal ini menciptakan ikatan emosional (emotional investment), di mana pemain menganggap pembelian item atau kostum sebagai bentuk apresiasi terhadap karya seni maupun karakter favorit mereka.

Kendati pengeluaran uang dalam gim merupakan bagian dari hak personal dalam menikmati hiburan, para pengamal psikologi digital dan ekonom mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan literasi keuangan digital. Tanpa adanya batasan anggaran (spending limit) yang bijak, dorongan impulsif dapat memicu risiko perilaku belanja adiktif (compulsive buying) yang berpotensi mengganggu stabilitas finansial pribadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....