Rancangan Megah dan Filosofi Suci Rumah Baanjung
- 29 Jun 2026 08:29 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Rumah Baanjung, atau yang sering disebut sebagai Rumah Banjar, merupakan nama kolektif untuk arsitektur hunian tradisional masyarakat suku Banjar di Kalimantan Selatan yang diperkirakan telah berkembang sejak abad ke-16 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah. Ciri khas utama yang melandasi penamaan ini adalah keberadaan anjung, yaitu sayap bangunan yang menjorok keluar di sisi kanan dan kiri lambung utama, yang mulanya berkembang dari teknik penyambungan bangunan (disumbi) berbentuk persegi panjang.
Dalam suatu perkampungan tradisional yang biasanya berjejer linier mengikuti aliran sungai atau jalur darat, variasi jenis Rumah Banjar sangat mencerminkan kasta sosial dan kemampuan ekonomi pemiliknya. Stratifikasi ini melahirkan beragam tipe bangunan, di antaranya Gajah Baliku, Palimasan, Balai Laki, Balai Bini, hingga kasta tertinggi yang paling agung yaitu Rumah Bubungan Tinggi, sebuah gaya arsitektur megah bersudut 45 derajat yang dikhususkan sebagai Dalam Sirap atau istana kediaman resmi para sultan. Dilansir dari id.wikipedia.org
Menghadapi karakteristik topografi Kalimantan yang didominasi oleh lahan basah dan wilayah berawa di sepanjang tepian sungai, rancangan fisik Rumah Baanjung menerapkan rekayasa struktural rumah panggung yang adaptif dan kokoh. Fondasi paling dasarnya bertumpu pada kekuatan kayu kapur naga atau galam, yang dipadukan dengan puluhan tiang utama serta ratusan tongkat penyangga berbahan kayu ulin (kayu besi) berkualitas tinggi agar lantai bangunan tetap berada aman di atas permukaan air.
Hebatnya, seluruh sistem kerangka dan komponen dinding papan vertikal bangunan tradisional ini dirakit secara presisi tanpa mengandalkan satu pun paku logam, melainkan memanfaatkan teknik pasak kayu terikat yang sangat lentur. Selain itu, penentuan dimensi panjang dan lebar bangunan wajib mengikuti perhitungan tradisional menggunakan ukuran depa atau telapak kaki sang suami dalam jumlah ganjil, serta perhitungan metafisika berbasis siklus makhluk hidup untuk menjamin keharmonisan serta kedamaian bagi seluruh penghuni di dalamnya.
Aspek estetika Rumah Baanjung diperkaya oleh seni pahat ornamen atau ukiran khas yang disebut dengan istilah tatah, yang pengerjaannya meliputi teknik relief (tatah surut), tiga dimensi (tatah babuku), hingga ukiran berlubang (tatah baluang). Seni hias ini tidak sekadar berfungsi sebagai elemen pemanis visual, melainkan sarat akan perlambang spiritual yang merepresentasikan akulturasi harmonis antara ajaran Islam dengan kepercayaan kuno pra-Islam (Kaharingan, Animisme, dan Hindu-Buddha).
Pengaruh Islam tecermin kuat pada dominasi guratan motif floral (daun dan bunga) serta seni kaligrafi Arab yang memuat kalimat syahadat, nama khalifah, atau potongan ayat suci Al-Qur'an pada area dahi pintu dan dinding pembatas. Di sisi lain, simbol kepercayaan lama tetap dipertahankan melalui stilasi bentuk makhluk mitologis yang menyamar, seperti ukiran burung enggang gading sebagai lambang "alam atas" pada ujung papilis (listplank) serta ornamen naga lipat bumi yang melambangkan kekuatan "alam bawah".
Secara kosmologis dan tata ruang, struktur vertikal Rumah Baanjung diibaratkan sebagai anatomi tubuh manusia yang terbagi atas tiga bagian utama, yaitu kepala (atap), badan (ruangan), dan kaki (tiang kolong), sedangkan sepasang anjung bertindak sebagai representasi tangan kanan dan kiri. Tata nilai ruang di dalam bangunan didesain secara hierarkis bertingkat-tingkat yang mencerminkan etika kesopanan sekaligus pelapisan sosial masyarakat Banjar tempo dulu antara golongan bangsawan (tutus raja) dengan rakyat biasa (urang jaba).
Sebelum memasuki area pribadi, tamu harus melewati area semi-publik berupa teras (pamedangan) menuju ruang komunal yang lantainya berjenjang naik, mulai dari Panampik Kacil untuk anak-anak, Panampik Tangah untuk pemuda, hingga Panampik Basar yang sakral bagi para tokoh terpandang. Seluruh area semi-privat ini dipisahkan dari ruang privat (palidangan) oleh sebuah dinding pembatas penuh ukiran pohon hayat yang disebut Tawing Halat, yang posisinya tepat berada di tengah perpotongan poros bangunan bermotif denah Cacak Burung (tanda tambah) yang dianggap suci dan menjadi jantung spiritual rumah adat Banjar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....