Tari Bedaya Ketawang: Seni Sakral dan Lambang Keluhuran Keraton Surakarta
- 30 Jun 2026 18:00 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Tari Bedaya Ketawang merupakan sebuah tarian kebesaran yang sangat sakral dalam tradisi Keraton Kesunanan Surakarta, Sumatera Utara. Seni tari bernilai estetika tinggi ini tidak berfungsi sebagai hiburan biasa, melainkan hanya dipertunjukkan secara resmi pada momen penobatan serta upacara peringatan kenaikan takhta raja (Tingalandalem Jumenengan Sunan Surakarta). Secara etimologis, nama tarian ini diambil dari kata bedhaya yang bermakna penari wanita istana, serta ketawang yang melambangkan langit, keluhuran, kemuliaan, dan kedekatan dengan Ketuhanan. Nilai kesucian tarian ini berakar pada keyakinan bahwa segala sesuatu di alam semesta hanya terjadi atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Setelah pembagian harta warisan Kesultanan Mataram pasca-Perjanjian Giyanti tahun 1755, tarian yang tergolong sebagai koreografi bedaya tertua ini sepenuhnya menjadi milik dan identitas agung bagi Keraton Surakarta.
Asal-usul tarian ini diselimuti oleh legenda gaib yang melibatkan para penguasa Mataram terdahulu. Salah satu versi menyebutkan bahwa saat Sultan Agung Hanyakrakusuma sedang melakukan semadi spiritual, ia mendengar senandung indah yang turun dari langit (tawang). Terinspirasi oleh pengalaman spiritual tersebut, sang raja kemudian memerintahkan para pengiring setianya untuk menciptakan tarian suci ini. Versi lain mengisahkan bahwa tarian ini lahir dari perjumpaan dan hubungan asmara antara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa mistis Laut Selatan. Sang Ratu berjanji akan selalu melindungi keturunan Mataram kapan pun kerajaan berada dalam bahaya, dan curahan kasih sayang abadi sang dewi laut kepada sang raja diabadikan melalui untaian bait lagu serta gerak tubuh lembut para penarinya. Dilansir dari id.wikipedia.org
Keunikan utama dari Tari Bedaya Ketawang terletak pada formasi sembilan penari putri yang melambangkan sembilan arah mata angin dalam mitologi Jawa (Nawasanga). Setiap penari memegang posisi unik bernama rakit lajur yang menyimbolkan elemen jiwa dan raga manusia, mulai dari Batak sebagai simbol jiwa/pikiran, Endhel Ajeg sebagai nafsu, hingga Buncit yang melambangkan rasi bintang di langit. Karena sifatnya yang sangat suci, para penari wajib memenuhi prasyarat ketat, seperti harus seorang gadis yang suci lahir dan batin, serta berpuasa menjelang hari pertunjukan. Jika salah satu penari sedang mengalami masa menstruasi, ia wajib melaksanakan ritual caos dhahar (persembahan makanan) di Panggung Sangga Buwana untuk memohon izin kepada Kanjeng Ratu Kidul. Masyarakat setempat percaya bahwa jika ada gerakan tari yang salah selama latihan, Sang Ratu Laut Selatan akan hadir sebagai penari kesepuluh untuk membenarkannya.
Daya tarik pementasan ini semakin diperkuat oleh kemegahan busana dan iringan musiknya yang kompleks. Para penari tampil anggun mengenakan pakaian adat dodot ageng atau basahan layaknya pengantin perempuan Jawa, lengkap dengan gelung bokor mengkurep dan hiasan ronce melati (tiba dhadha) yang menjuntai indah. Pada awal perkembangannya, tarian ini dipentaskan selama dua setengah jam, namun sejak era Pakubuwana X dipadatkan menjadi satu setengah jam saja. Alunan musiknya menggunakan Gending Ketawang Gedhe bernada pelog yang didominasi instrumen khas seperti kemanak, kethuk, kenong, kendhang, dan gong. Ketepatan dan kekompakan antara penari, sinden, dan penabuh gamelan memerlukan latihan yang cermat karena tarian ini memiliki fungsi ritual yang mendalam bagi keraton.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....