Menjelami Tari Yapong: Seni Kreasi Baru yang Memperkaya Budaya Betawi

  • 30 Jun 2026 18:02 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Tari Yapong merupakan jenis tarian semi-tradisional khas masyarakat Betawi yang awalnya terinspirasi dari keindahan gerak Tari Jaipong asal Jawa Barat. Berbeda dengan tarian ritual, Yapong sejak awal diciptakan sebagai tarian pertunjukan yang menghibur dan penuh dengan variasi gerakan yang dinamis. Dalam perkembangannya, tarian ini tidak lagi hanya sekadar tontonan formal, melainkan sering kali dialihfungsikan menjadi tari pergaulan yang populer untuk memeriahkan berbagai jenis acara sesuai dengan permintaan masyarakat. Sifatnya yang fleksibel dan penuh kegembiraan membuat tarian ini sangat diminati oleh berbagai kalangan. Dilansir dari id.wikipedia.org

Sejarah mencatat bahwa Tari Yapong pertama kali digagas dalam rangka menyambut hari ulang tahun Kota Jakarta yang ke-450 pada tahun 1977. Kala itu, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta berencana menggelar sebuah pertunjukan tari massal berskala besar yang mengangkat kisah heroik perjuangan Pangeran Jayakarta. Tugas besar ini dipercayakan kepada maestro tari legendaris, Bagong Kussudiarjo, yang kemudian melakukan riset mendalam selama beberapa bulan melalui studi pustaka, film, hingga pengamatan langsung terhadap kehidupan masyarakat Betawi. Buah kerja keras tersebut akhirnya sukses dipentaskan pada 20 dan 21 Juni 1977 di Balai Sidang Senayan dengan melibatkan hingga 300 seniman dan musisi. Setelah proyek sendratari massal tersebut selesai, Pusat Latihan Tari (PLT) Bagong Kussudiarjo bersama pemerintah daerah sepakat untuk mengemas ulang tarian ini menjadi sebuah tarian lepas yang berdiri sendiri.

Sebagai tarian yang mengekspresikan sukacita, Yapong menonjolkan gerakan yang sangat dinamis, riang, dan eksotis guna menggambarkan suasana menyambut sang pahlawan, Pangeran Jayakarta. Keunikan nama "Yapong" sendiri sebenarnya tidak memiliki arti khusus dalam kamus bahasa, melainkan lahir secara spontan dari perpaduan suara selama pertunjukan berlangsung. Istilah ini muncul dari suara para penyanyi latar yang menggaungkan seruan "ya, ya, ya, ya" yang berpadu selaras dengan ketukan instrumen musik yang berbunyi "pong, pong, pong". Kombinasi bunyi "ya-pong" itulah yang terus melekat di telinga masyarakat hingga akhirnya berkembang menjadi nama resmi tarian kreasi baru ini.

Daya tarik visual dan auditori dari Tari Yapong juga merepresentasikan akulturasi budaya yang sangat kaya. Kostum para penari mengadopsi busana tari Kembang Topeng Betawi, yang terlihat jelas pada hiasan kepala serta selempang dada yang disebut toka-toka. Secara koreografi, tarian ini memadukan unsur tari rakyat Betawi dengan sentuhan tari modern (pop) serta sedikit pengaruh gerakan tari khas Sumatra dan budaya Tionghoa, yang tampak pada motif naga berwarna merah terang pada kain penari. Keberagaman ini disempurnakan oleh musik pengiringnya yang mencampurkan unsur tradisi Betawi, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Saat tampil sebagai tarian lepas, instrumen khas Betawi seperti Rebana Biang, Rebana Hadroh, dan Rebana Ketimpring mendominasi alunan musiknya, mempertegas bahwa Tari Yapong adalah mahakarya kontemporer yang berakar kuat pada nilai-nilai tradisi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....