Menyelami Seni Jaipongan: Dinamika Tari Pergaulan Khas Jawa Barat
- 30 Jun 2026 08:04 WIB
- Denpasar
RRI. CO.ID, Denpasar - Tari Jaipongan merupakan genre seni pertunjukan orisinal khas Jawa Barat yang lahir dari proses kreatif dan buah pemikiran seorang maestro bernama Gugum Gumbira pada tahun 1976 di Kota Bandung. Seni tari kreasi baru ini bertransformasi dari kekayaan budaya tradisi lokal yang sudah berkembang sebelumnya, seperti ketuk tilu, pencak silat, wayang golek, serta teater rakyat sejenis longser dan topeng banjet.
Dilansir dari id.wikipedia.org, keberadaan Jaipongan terbukti memberikan corak baru yang sangat berbeda, baik dari segi penataan tarian maupun komposisi musiknya. Kesenian ini tumbuh pesat di Kota Bandung pada era 1980-an dengan sokongan dari studio rekaman JUGALA milik Gugum Gumbira, yang berhasil memproduksi kaset rekaman hingga membuat gaung Jaipongan menyebar luas ke seluruh pelosok Jawa Barat, termasuk mendapatkan apresiasi yang besar di wilayah Subang dan Karawang sebagai hiburan pergaulan rakyat yang baru.
Sebelum Jaipongan mendominasi panggung hiburan, gaya tari pergaulan di masyarakat Priangan sempat terbagi dua, yaitu pengaruh dansa Ball Room Barat di kalangan elite dan tradisi lokal seperti ketuk tilu di kalangan masyarakat bawah yang berpusat pada kehadiran sosok ronggeng (penari) dan pamogoran (penonton aktif). Ketika ketuk tilu mulai memudar, minat para penikmat seni beralih pada kesenian Kliningan Bajidoran di kawasan Pantai Utara Jawa Barat yang secara koreografis masih mempertahankan gerak tradisi seperti bukaan, pencugan, nibakeun, dan mincid.
Pola-pola gerakan dinamis inilah yang kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh Gugum Gumbira. Pada awal kemunculannya, tarian baru ini sempat dinamakan "Ketuk Tilu Perkembangan" karena kemiripan unsurnya, sebelum akhirnya resmi dideklarasikan dengan nama Jaipongan setelah mendapatkan reaksi penolakan dari komunitas pegiat ketuk tilu konvensional.
Nama Jaipongan mulai dikenal secara nasional sejak tahun 1978 lewat meledaknya karya ikonik berjudul "Daun Pulus Keser Bojong" yang dibawakan oleh penari legendaris Idjah Hadijah, bersama penabuh kendang handal Suwanda, serta juru alok Mang Samin. Seiring berjalannya waktu, lahir pula karya populer lainnya seperti Rendeng Bojong, Toka-toka, Setra Sari, hingga Sonteng yang melahirkan barisan penari berbakat seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, hingga Iceu Effendi.
Meskipun di awal kemunculannya sempat menuai kontroversi karena gerakannya dinilai terlalu vulgar oleh sebagian pihak, publikasi media cetak dan momentum penampilannya di TVRI pusat Jakarta pada tahun 1980 berhasil melambungkan nama Jaipongan ke puncak popularitas. Dampaknya, frekuensi pementasan Jaipongan melonjak drastis, baik untuk acara televisi, upacara hajatan, maupun perayaan resmi pemerintah.
Kesuksesan Jaipongan memberikan pengaruh yang sangat masif bagi kebangkitan ekonomi kreatif dan pelestarian budaya lokal melalui menjamurnya sanggar-sanggar tari di berbagai daerah. Di wilayah pesisir utara, muncul variasi unik yang dikenal sebagai Jaipongan gaya kaleran (utara) khas Subang yang menonjolkan karakter ceria, erotis, humoris, spontan, serta memiliki tradisi jeblokan atau jabanan (saweran uang dari penonton).
Kini, Jaipongan telah mengukuhkan posisinya sebagai identitas utama kesenian Jawa Barat yang selalu diandalkan untuk menyambut tamu negara asing maupun delegasi budaya internasional ke mancanegara. Keindahan ritmenya yang adaptif bahkan ikut memengaruhi seni pertunjukan lain, mulai dari wayang, degung, hingga berkolaborasi harmonis dengan genre musik modern menjadi kesenian Jaipong-Dangdut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....