Menyelami Tari Payung: Simbol Perlindungan dan Romantisme Muda-Mudi Minangkabau
- 30 Jun 2026 07:59 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar-Tari Payung merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Indonesia yang tumbuh subur dalam kebudayaan masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Secara etimologis, kata "payung" berakar dari bahasa Kawi dan Sunda Kuno yang berarti pelindung dari hujan atau panas. Walaupun atribut payung juga ditemukan dalam berbagai tari daerah lain di Nusantara, Tari Payung khas Minangkabau memiliki daya tarik yang sangat spesifik.
Dilansir dari id.wikipedia.org, tarian ini biasanya dibawakan secara berpasangan oleh tiga atau empat penari yang mengusung tema romantis, yakni sebuah simbolisasi kasih sayang, keharmonisan, serta tuntunan berperilaku bagi muda-mudi dalam menjalin hubungan asmara agar tetap selaras dengan norma adat dan agama.
Jejak sejarah mencatat bahwa Tari Payung berkembang pesat sejak era 1920-an melalui panggung seni drama pada masa kolonial Belanda. Awalnya, tarian ini hanyalah sebuah pertunjukan selingan atau pelengkap panggung, namun respons positif yang luar biasa dari masyarakat lambat laun mengubahnya menjadi pertunjukan tunggal yang sangat populer pada tahun 1960-an.
Eksistensi tarian ini terus dijaga melalui sentuhan kreativitas para maestro tari, salah satunya adalah Syofiyani Yusaf dari Bukittinggi yang memodifikasi gerakan Tari Payung pada era 2000-an agar lebih dinamis namun tetap memegang teguh etika tradisi Minang. Kini, Tari Payung tidak hanya sering menghiasi festival budaya nasional dan internasional, melainkan telah masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal di Sumatera Barat, seperti di SMK 7 Padang dan Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang.
Pesona utama dari tarian ini terletak pada penggunaan properti payung dan selendang yang kaya akan makna filosofis. Payung yang dibawa oleh penari pria melambangkan peran laki-laki sebagai pilar utama keluarga yang wajib memberikan perlindungan lahir dan batin kepada pasangannya. Sementara itu, selendang yang dikenakan oleh penari wanita bermakna ikatan cinta yang suci, kesetiaan, serta kesiapan seorang perempuan dalam membina bahtera rumah tangga.
Memasuki pertengahan hingga akhir tarian, kedua properti ini akan saling bertemu dan bertautan—di mana penari wanita menyampirkan selendangnya kepada penari pria—sebagai representasi indah dari sepasang kekasih yang akhirnya bersanding di pelaminan.
Pertunjukan ini semakin hidup berkat keselarasan busana dan musik pengiring tradisional yang khas. Para penari wanita tampil anggun mengenakan baju kurung atau kebaya bersongket, rambut disanggul, serta dihiasi mahkota suntiang keemasan berukuran rendah, sedangkan penari pria mengenakan setelan baju teluk belanga dengan kerah cekak musang, kain sesamping songket, dan kopiah hitam.
Penampilan visual yang megah tersebut dibalut oleh alunan musik tradisional dari perpaduan saluang dan gendang. Musik ini mengiringi lagu legendaris berjudul "Babendi-bendi ke Sungai Tanang", sebuah lagu ceria yang mengisahkan sepasang suami-istri yang tengah menikmati momen bulan madu yang bahagia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....