Pesona Tari Piring: Seni Atraksi Unik dan Warisan Identitas Budaya Minangkabau
- 30 Jun 2026 07:56 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Tari Piring merupakan seni tari tradisional khas suku Minangkabau yang berasal dari Solok, Provinsi Sumatera Utara. Tarian yang dipopulerkan oleh maestro tari Huriah Adam ini sangat terkenal dengan atraksi visualnya yang memukau, di mana para penari mengayunkan piring di telapak tangan mereka dengan gerakan yang sangat cepat dan teratur tanpa terjatuh.
Seni tari yang gerakannya mengadopsi langkah-langkah bela diri silat Minangkabau (silek) ini tidak hanya dicintai di daerah asalnya, tetapi juga telah menjadi salah satu tarian populer Indonesia. Dilansir dari id.wikipedia.org, bersama dengan tari tradisional lainnya seperti Saman, Pendet, dan Jaipong, Tari Piring kerap dipersembahkan dalam berbagai ajang promosi kebudayaan tingkat internasional serta menjadi bagian penting dalam menyambut tamu kehormatan maupun membuka upacara adat.
Berdasarkan sejarahnya, sebelum ajaran Islam meluas di ranah Minangkabau, Tari Piring berfungsi sebagai bagian dari ritual kesuburan dan ungkapan rasa syukur masyarakat setempat kepada dewa-dewa atas hasil panen yang melimpah. Pada masa lampau, prosesi ini dilakukan dengan cara membawa sesaji makanan di atas piring sambil melangkah dinamis mengikuti irama musik.
Namun, seiring masuk dan berkembangnya agama Islam di Sumatera Barat, fungsi tarian ini mengalami pergeseran makna yang mendalam. Ritual pemujaan dewa ditinggalkan, dan Tari Piring bertransformasi sepenuhnya menjadi sarana hiburan rakyat yang bernilai estetika tinggi serta sarat akan nilai-nilai luhur peninggalan para leluhur.
Keunikan utama dari pertunjukan ini terletak pada formasi penarinya yang biasanya berjumlah ganjil, berkisar antara tiga hingga tujuh orang dengan balutan busana adat berwarna cerah seperti merah dan kuning keemasan. Selama menari, piring diletakkan di atas kedua telapak tangan dan diayunkan secara lincah sembari sesekali mendentingkan piring tersebut menggunakan cincin khusus yang dipakai di jari penari.
Gerakan tarian ini sangat bervariasi karena memadukan unsur alam seperti alang babega (elang berputar) dan tupai bagaluik (tupai bergelut), hingga meniru aktivitas sehari-hari seperti bercermin, menyiang padi, dan mengayun anak. Sebagai puncak atraksi yang paling dinantikan dan membuat penonton terkagum-kagum, para penari akan melemparkan piring-piring tersebut ke lantai lalu menari dengan riang di atas pecahan kaca tajam tanpa terluka sedikit pun.
Daya hidup Tari Piring juga tidak lepas dari keharmonisan musik pengiringnya yang memadukan alat musik tradisional seperti talempong pacik (alat musik pukul dari perunggu yang dimainkan dengan cara dipegang), gandang (gendang khas Minang), serta pupuik batang padi (seruling unik dari batang padi yang dimodifikasi). Alunan musik ini awalnya bertempo lembut sebelum perlahan-lahan berubah menjadi sangat cepat dan dinamis seirama dengan gerak penari.
Di era modern, eksistensi Tari Piring terus dijaga dengan baik oleh masyarakat di ranah Minang maupun oleh komunitas perantau di berbagai daerah melalui sanggar-sanggar seni. Walaupun kini banyak mendapatkan sentuhan koreografi modern, tarian ini tetap mempertahankan esensi aslinya dan kokoh berdiri sebagai simbol identitas budaya masyarakat Minangkabau yang luhur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....