Menyelami Tari Serampang 12: Kisah Cinta dalam Balutan Budaya Melayu Deli
- 30 Jun 2026 21:25 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Tari Serampang 12 merupakan kesenian tradisional khas dari Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, yang memadukan keindahan gerak Melayu Deli dengan tempo yang relatif cepat dan dinamis. Mahakarya ini diciptakan oleh Guru Sauti, seorang pendidik kelahiran tahun 1903 di Pantai Cermin yang mendedikasikan hidupnya bagi dunia pendidikan dan kebudayaan hingga wafat pada tahun 1963.
Sebelum populer dengan nama Serampang 12, tarian ini awalnya dikenal sebagai Tari Pulau Sari karena menggunakan lagu pengiring yang berjudul sama. Namun, karena penamaan "Pulau" biasanya identik dengan tempo lambat sejenis rumba, nama tersebut akhirnya diubah sekitar tahun 1950-an menjadi Serampang 12 untuk menyesuaikan dengan ritme gerakannya yang sangat cepat dan lincah.
Meskipun pada masa awal penciptaannya hanya boleh ditarikan oleh kaum pria, adaptasi modern kini memungkinkan penari perempuan untuk ikut serta berpasangan dalam pementasannya. Tarian ini sejatinya merupakan sebuah representasi seni yang menceritakan perjalanan cinta sepasang kekasih dari awal pertemuan hingga jenjang pernikahan melalui 12 tahapan gerakan yang berurutan.
Fase awal dimulai dari gerakan permulaan, gerakan berjalan, gerakan pusing, dan gerakan gila yang menggambarkan tumbuhnya benih-benih asmara, rasa penasaran, serta kegundahan hati yang meluap-luap saat kedua sejoli tersebut mulai mabuk kepayang oleh cinta yang sedang bersemi. Dilansir dari id.wikipedia.org
Alur romansa tersebut kemudian berlanjut pada gerakan sipat, goncat-goncet, sebelah kaki, dan langkah tiga, di mana sang gadis mulai memberikan isyarat lampu hijau lewat permainan mata dan bahasa tubuh. Pada tahap ini, sang pemuda dengan penuh keyakinan menyatakan isi hatinya, disusul oleh momen penuh kebahagiaan ketika mereka berkomitmen untuk menjalin hubungan dan mulai memperkenalkan diri kepada pihak keluarga masing-masing.
Memasuki tahap akhir, emosi penonton dibawa larut dalam ketegangan dan kebahagiaan melalui gerakan melonjak, datang-mendatangi, rupa, dan sapu tangan. Gerakan-gerakan penutup ini menyiratkan debaran hati menanti restu orang tua, prosesi lamaran, hingga puncaknya saat sepasang kekasih ini bersanding di pelaminan dan mengikat janji suci yang tak terpisahkan melalui simbol jalinan sapu tangan berwarna cerah.
Untuk mendukung penampilannya yang penuh semangat, para penari mengenakan pakaian adat Melayu Pesisir bernuansa cerah seperti merah, biru muda, atau merah muda. Penari pria memakai setelan kemeja dan celana panjang yang dilengkapi peci serta kain songket sebatas lutut,
sementara penari wanita mengenakan baju kurung lengan panjang dengan kain tenun yang menjuntai indah hingga mata kaki. Keharmonisan gerak berpasangan ini diselaraskan dengan iringan musik tradisional yang bersumber dari perpaduan suara akordeon, kecapi, dan rebana. Seiring dengan kemajuan zaman, instrumen pengiringnya kini kian berkembang dengan tambahan organ maupun piano, bahkan sering kali disajikan dalam bentuk rekaman audio demi kepraktisan pertunjukan di atas panggung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....