Mengenal Tahuri: Alat Musik Kulit Kerang Maluku

  • 29 Jun 2026 08:18 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Tahuri, atau yang juga dikenal sebagai ahuri—merupakan alat musik tiup sejenis terompet tradisional yang lahir dari kreativitas masyarakat pesisir Maluku. Keunikan utama alat musik ini terletak pada bahan bakunya yang 100% berasal dari alam, yaitu menggunakan cangkang kerang atau kulit bia yang dibersihkan lalu dilubangi dengan bor. Karakter suaranya sangat dipengaruhi oleh ukuran cangkang itu sendiri. Semakin kecil ukuran kerang yang digunakan, maka bunyi yang dihasilkan akan semakin nyaring dan tinggi, sedangkan kerang yang berukuran besar akan mengeluarkan nada yang lebih rendah. Dilansir dari id.wikipedia.org

Sejarah pengembangan tahuri menjadi instrumen musik yang kaya nada tidak lepas dari kolaborasi apik pada tahun 1962 antara Letkol G. Latumahina, yang kala itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Maluku, dengan seorang pemimpin orkes suling bernama Dominggus Paulus Horhorouw. Keduanya memiliki visi yang sama untuk mengangkat martabat budaya Maluku melalui alat musik yang khas. Melalui proses panjang dan pencarian bahan baku kulit bia hingga ke wilayah Saumlaki, Dobo, Kepulauan Aru, dan Banda, mereka berhasil mengumpulkan berbagai jenis kerang untuk dikembangkan menjadi instrumen musik yang harmonis.

Dalam proses pembuatannya, ketepatan menentukan tinggi rendahnya nada sangat bergantung pada ukuran diameter cangkang serta besar kecilnya lubang tiup yang dibuat. Kreativitas para perajin lokal dalam mengolah kekayaan laut ini berhasil mengubah kulit bia yang awalnya hanya menjadi pajangan kerajinan tangan, kini naik kelas menjadi alat musik tiup yang bernilai estetika tinggi. Kehadiran tahuri terbukti mampu memicu semangat generasi muda Maluku untuk terus berinovasi dalam melestarikan seni musik tradisional mereka.

Selain berfungsi sebagai sarana hiburan, tahuri sejak zaman dahulu memegang peranan krusial sebagai alat komunikasi adat antara Raja, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Bunyi tahuri biasanya ditiupkan oleh pesuruh desa sebagai pertanda khusus untuk mengumpulkan warga, menyampaikan perintah raja, hingga memberi peringatan dalam situasi darurat seperti perang. Hingga saat ini, tradisi meniup tahuri masih tetap terjaga dan sering kali diperdengarkan sebagai ritual pembuka atau penutup dalam berbagai upacara adat di Maluku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....