Masyarakat Indonesia Habiskan Empat hingga Enam Jam Ber-Internet
- 25 Jun 2026 10:37 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar - Aktivitas masyarakat Indonesia di ruang digital semakin intensif pada 2026 seiring tingginya durasi penggunaan internet harian. Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026 yang diselenggarakan APJII menunjukkan mayoritas pengguna internet menghabiskan waktu 4–6 jam per hari untuk terhubung ke dunia maya.
Kelompok pengguna dengan durasi akses empat hingga jam per hari mencapai 43,4% dari total responden. Sementara itu, 33,6% responden mengakses internet selama satu hingga tiga jam per hari, sedangkan 13,4% lainnya bahkan terhubung selama tujuh hingga sepuluh jam setiap hari.
Data tersebut mencerminkan semakin besarnya peran internet dalam aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari bekerja, belajar, berbelanja, hingga menikmati hiburan digital. Perkembangan ekonomi digital Indonesia yang terus tumbuh juga mendorong masyarakat untuk semakin bergantung pada layanan berbasis internet.
Pada 2026, jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai 235,26 juta jiwa atau setara 81,72% dari total populasi nasional. Tingginya angka penetrasi ini menunjukkan bahwa akses internet kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial maupun ekonomi masyarakat.
Menariknya, durasi penggunaan internet masyarakat relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 84,6% responden menyatakan waktu penggunaan internet mereka tidak mengalami perubahan dibandingkan 2025, sementara 12,1% mengaku meningkat dan 3,3% menyebut mengalami penurunan.
Di tengah tingginya aktivitas digital tersebut, kualitas konektivitas juga mengalami perubahan. Penggunaan Wi-Fi rumah tercatat meningkat menjadi 32,6% pada 2026, lebih tinggi dibandingkan 28,4% pada 2025.
Meski demikian, data seluler masih menjadi tulang punggung akses internet nasional. Sebanyak 64,6% responden mengandalkan jaringan seluler operator untuk terhubung ke internet, menunjukkan pentingnya peran operator telekomunikasi dalam menjaga kualitas layanan digital di berbagai wilayah.
Peningkatan penggunaan Wi-Fi rumah turut mencerminkan perubahan pola konsumsi internet masyarakat. Kebutuhan untuk streaming video, konferensi daring, bermain gim online, hingga penggunaan perangkat rumah pintar membutuhkan koneksi yang lebih stabil dan berkapasitas besar.
Survei APJII juga menunjukkan smartphone masih menjadi perangkat utama untuk mengakses internet. Sebanyak 84,31% responden menggunakan ponsel pintar sebagai sarana utama terhubung ke internet, jauh melampaui laptop yang hanya digunakan oleh 9,41% responden.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa internet di Indonesia semakin berpusat pada perangkat mobile. Kemudahan akses, harga perangkat yang semakin terjangkau, serta dukungan jaringan seluler yang luas membuat smartphone menjadi pilihan utama bagi hampir seluruh kelompok usia.
Bahkan, tingkat penggunaan smartphone tertinggi justru tercatat pada kelompok Pre-Boomers sebesar 97,7% dan Baby Boomers sebesar 93,8%. Temuan ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak lagi didominasi kelompok usia muda, melainkan telah menjangkau generasi yang lebih senior.
Namun, meningkatnya konektivitas digital juga dibarengi dengan berbagai risiko keamanan siber. Penipuan online menjadi kasus yang paling banyak dialami pengguna internet dengan porsi 13,6%, diikuti pencurian data pribadi atau phishing sebesar 7,8%, serta perangkat yang terinfeksi virus sebesar 7,4%.
Ancaman tersebut menjadi perhatian karena semakin banyak aktivitas penting masyarakat yang berpindah ke platform digital. Transaksi keuangan, komunikasi pribadi, hingga penyimpanan dokumen kini banyak dilakukan secara online sehingga membutuhkan perlindungan yang lebih baik.
"Penipuan online menjadi kasus yang paling banyak dialami" pengguna internet Indonesia dalam survei APJII 2026. Sementara itu, sebanyak 63,3% responden menyatakan tidak mengetahui atau tidak pernah mengalami kasus keamanan saat mengakses internet.
Ketika menghadapi masalah keamanan digital, mayoritas masyarakat masih mengandalkan bantuan dari lingkungan terdekat. Sebanyak 35,9% responden memilih meminta bantuan kepada teman atau keluarga, sedangkan 30,5% berupaya menyelesaikan masalah secara mandiri.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa literasi keamanan digital masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperkuat. Terlebih, masih terdapat 21,4% responden yang mengaku tidak mengetahui atau tidak pernah melakukan langkah khusus untuk melindungi data pribadi saat berinternet.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....