Survei APJII 2026: Gen Z pengguna AI Paling Aktif

  • 25 Jun 2026 10:36 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID,Denpasar - Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026 yang dilakukan APJII menunjukkan hanya 18,2% pengguna internet yang telah memanfaatkan AI, sementara 81,8% lainnya belum pernah menggunakannya. Meski Generasi Z tercatat sebagai kelompok pengguna kecerdasan buatan (AI) paling aktif di Indonesia pada 2026, tingkat adopsi teknologi tersebut secara nasional masih tergolong rendah.

Data tersebut menjadi indikasi bahwa perkembangan AI di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi literasi digital masyarakat. Padahal, jumlah pengguna internet nasional pada 2026 telah mencapai 235,26 juta jiwa atau setara 81,72% dari total populasi Indonesia yang berjumlah 287,89 juta jiwa.

Kelompok Gen Z berusia 13–28 tahun menjadi generasi dengan tingkat penggunaan AI tertinggi, yakni mencapai 29,4%. Angka ini jauh melampaui Milenial sebesar 16,7%, Gen X sebesar 7,5%, serta Baby Boomers dan Pre Boomers yang masing-masing hanya 0,8%.

Dominasi Gen Z tidak terlepas dari kedekatan mereka dengan teknologi digital sejak usia muda. Selain lebih cepat beradaptasi dengan platform baru, generasi ini juga cenderung memanfaatkan AI untuk berbagai aktivitas kreatif yang menjadi bagian dari keseharian mereka.

Pemanfaatan AI di kalangan Gen Z paling banyak digunakan untuk hiburan dengan persentase mencapai 44,4%. Sementara itu, 34,9% memanfaatkannya untuk edukasi dan riset, 19,0% untuk pekerjaan dan produktivitas, serta 1,6% sebagai asisten digital.

Secara nasional, hiburan juga menjadi tujuan utama penggunaan AI. Sebanyak 36,5% pengguna AI memanfaatkan teknologi tersebut untuk membuat gambar atau video generatif, diikuti penggunaan untuk edukasi dan riset sebesar 30,2%, serta pekerjaan dan produktivitas sebesar 26,9%.

Fenomena tersebut sejalan dengan tren global yang menunjukkan semakin populernya teknologi generative AI di kalangan pengguna muda. Berbagai platform berbasis AI kini banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan konten kreatif, membantu proses belajar, hingga mendukung penyelesaian tugas sehari-hari secara lebih cepat.

Namun, rendahnya tingkat adopsi AI di Indonesia menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami manfaat teknologi tersebut. APJII mencatat alasan terbesar responden belum menggunakan AI adalah karena tidak mengetahui teknologi AI, dengan persentase mencapai 46,6%.

Selain kurangnya pemahaman, sebanyak 22,7% responden merasa tidak membutuhkan layanan AI dalam aktivitas mereka. Adapun 15,5% responden mengaku belum mengetahui cara menggunakan AI, sementara sebagian lainnya menilai layanan AI belum menarik atau masih sulit dioperasikan.

Kekhawatiran terhadap privasi dan keamanan data juga menjadi faktor penghambat adopsi teknologi ini. Sebanyak 3,6% responden menyebut aspek keamanan sebagai alasan belum menggunakan AI, sedangkan 2,1% lainnya terkendala akses perangkat dan teknologi yang memadai.

Pakar teknologi dan lembaga internasional dalam beberapa tahun terakhir menilai literasi AI akan menjadi salah satu kompetensi penting di era ekonomi digital. Selain kemampuan menggunakan teknologi, masyarakat juga perlu memahami etika penggunaan AI, perlindungan data pribadi, serta kemampuan memverifikasi informasi yang dihasilkan sistem kecerdasan buatan.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

"Gen Z menjadi pengguna AI terbesar dengan persentase 29,4%," demikian temuan APJII dalam surveinya. Namun di saat yang sama, survei tersebut juga menunjukkan bahwa "46,6%" responden yang belum menggunakan AI mengaku tidak mengetahui teknologi tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....