Joe Taslim dan Yayan Ruhian: Legenda Laga Bersatu Kembali dalam Film "The Furious"

  • 03 Jun 2026 12:55 WIB
  •  Denpasar

RRI. CO.ID, Denpasar – Di antara semua film laga yang pernah hadir ke layar bioskop Indonesia, ada momen-momen langka ketika sebuah film datang bukan sekadar untuk menghibur tetapi untuk menampar kesadaran kita bahwa sinema aksi Asia sedang berada di puncaknya dan The Furious adalah momen itu. Film martial arts terbaru yang sudah menggemparkan para kritikus dunia dengan skor 100% di Rotten Tomatoes ini kini hadir di bioskop Indonesia, membawa serta dua nama yang sudah lama menjadi kebanggaan perfilman laga Nusantara: Joe Taslim dan Yayan Ruhian dalam satu frame yang sudah cukup untuk membuat siapapun yang mengenal mereka langsung memesan tiket tanpa baca sinopsis sekalipun. Diproduksi oleh Edko Films, XYZ Films, dan Zhejiang Hengdian Film Production dengan distribusi global oleh Lionsgate, film berdarah Hong Kong-China ini digarap oleh sutradara laga legendaris Kenji Tanigaki dan hadir di layar bioskop Indonesia mulai 17 Juni 2026 sebuah sajian yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh semua pecinta film aksi di Tanah Air.

The Furious adalah karya Kenji Tanigaki, sutradara Jepang yang reputasinya dalam membangun koreografi pertarungan berbasis kemampuan fisik nyata sudah tidak perlu dipertanyakan lagi di lingkaran sinema laga Asia. Naskahnya ditulis oleh Frank Hui, Zhilong Lei, Tin Shu Mak, dan Kwan-Sin Shum kolaborasi empat penulis yang menghasilkan cerita balas dendam paling manusiawi yang bisa ada: seorang ayah, tangannya, dan amarahnya yang tidak punya batas. Mendapat rating D17 dari LSF Indonesia karena kandungan adegan laga dan kekerasan yang sangat intens, film ini memang bukan untuk semua orang tapi untuk mereka yang sudah siap, ini adalah pengalaman yang tidak akan mudah dilupakan.

Wang Wei (Xie Miao) adalah sosok yang hidupnya terasa paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari bukan pahlawan super, bukan mantan agen rahasia, bukan bekas tentara dengan dossier rahasia hanya seorang pengrajin biasa yang hidupnya tenang, pekerjaannya jujur, dan dunianya hanya berputar pada satu orang: putrinya yang ia cintai lebih dari apapun yang pernah ada dalam hidupnya. Tapi ketenangan itu hancur dalam satu malam ketika jaringan kriminal berani mengulurkan tangan mereka dan menculik putrinya secara brutal, seolah nyawa seorang anak gadis hanyalah koin yang bisa dipindahtangankan sesuka hati. Wang Wei berlari ke polisi dan menemukan bahwa polisi yang seharusnya menjadi benteng keadilan sudah lama dibeli oleh orang-orang yang kini memegang putrinya, sehingga satu-satunya jalan yang tersisa adalah jalan yang tidak pernah ingin ia tempuh lagi: membongkar kembali masa lalu yang sudah lama ia kubur dalam-dalam, bangkit sebagai petarung yang pernah ia pendam, dan turun sendiri ke kegelapan yang tidak menjanjikan apapun selain risiko yang tidak punya batas.

Saat Wang Wei berjalan sendirian di lorong paling berbahaya yang pernah ada dalam hidupnya, alam semesta menempatkan satu orang di persimpangan yang sama: Navin (Joe Taslim), jurnalis keras kepala yang sudah terlalu lama menghadapi tembok yang sama. Istrinya menghilang dalam kondisi yang tidak bisa dijelaskan, dan setiap laporan, setiap penyelidikan, setiap artikel yang ia tulis berakhir di tangan yang sama yang kini memegang putri Wang Wei sebuah jaringan yang terlalu besar, terlalu dalam, dan terlalu lama dibiarkan bernapas oleh sistem yang sudah tidak berfungsi. Dua orang dengan luka yang berbeda tapi musuh yang sama akhirnya memilih untuk berjalan bersama bukan karena mereka percaya satu sama lain pada awalnya, tapi karena tidak ada pilihan lain yang lebih masuk akal daripada bersatu ketika semua jalan resmi sudah buntu. Dan di balik kekuatan jaringan kriminal yang mereka hadapi berdiri nama-nama yang tidak main-main: sosok-sosok yang diperankan oleh Yayan Ruhian, JeeJa Yanin, dan Brian Le masing-masing adalah ancaman yang berdiri sendiri dalam keahlian bela diri yang berbeda dan sama-sama mematikan.

Ini bukan pujian yang dilontarkan demi promosi ini adalah pengakuan langsung dari Joe Taslim sendiri yang mengatakan The Furious memiliki koreografi pertarungan paling kompleks dan paling rumit yang pernah ia hadapi sepanjang kariernya, termasuk semua produksi Hollywood yang sudah ia lewati sebelumnya. Kenji Tanigaki membangun setiap adegan dari kenyataan tubuh para aktornya: Xie Miao dengan Wushu yang ia kuasai sejak berusia delapan tahun, Joe Taslim dengan Judo kejuaraan nasional yang membentuk cara berpikirnya dalam ruang pertarungan, dan Yayan Ruhian dengan Pencak Silat yang sudah memukau kritikus dunia sejak The Raid (2011) pertama kali diputar di festival internasional. Tidak ada CGI yang digunakan untuk menutupi kelemahan setiap pukulan yang terasa, setiap bantingan yang menyapu lantai, dan setiap kecepatan yang membuat mata sulit mengikuti adalah nyata, dilakukan oleh tubuh yang telah berlatih ribuan jam untuk satu momen di depan kamera. Di sinilah The Furious berbicara bahasa yang tidak bisa diterjemahkan oleh anggaran Hollywood sebesar apapun.

Bahkan sebelum tayang secara luas, para kritikus yang mendapat akses pemutaran khusus sudah memberikan putusan mereka dengan bulat dan 100% di Rotten Tomatoes bukan angka kecil di dunia di mana film dengan 80% sudah dianggap layak pujian. Perbandingan dengan The Raid dan film-film Hong Kong klasik era Golden Age tidak dilontarkan untuk nostalgia semata, tapi untuk menempatkan The Furious di daftar film yang benar-benar mengubah cara orang melihat genre ini. Para kritikus menyebut film ini sebagai pembuktian bahwa sinema laga Asia tidak hanya bertahan tapi sedang dalam kondisi terbaiknya dan bahwa Kenji Tanigaki, Joe Taslim, dan Yayan Ruhian adalah tiga nama yang bisa disebut dalam satu kalimat dengan para maestro genre ini dari era manapun. Skor itu bukan keberuntungan; itu adalah hasil dari persiapan yang tidak mengenal jalan pintas.

The Furious adalah pertemuan paling langka yang bisa ada dalam satu film: cerita yang berakar pada emosi paling universal (cinta seorang ayah), aksi yang dibangun dari kemampuan fisik paling otentik, dan sutradara yang mengetahui persis bagaimana menyatukan keduanya tanpa mengorbankan satupun. Dengan durasi 113 menit yang tidak membuang satu detik pun untuk hal yang tidak perlu, rating D17 yang menjamin tidak ada kompromi dalam intensitasnya, dan nama-nama di belakang dan di depan kamera yang sudah terbukti kaliber internasionalnya, The Furious hadir di XXI, CGV, Cinépolis, dan seluruh bioskop Indonesia mulai 17 Juni 2026. Reuni Joe Taslim dan Yayan Ruhian sudah di depan mata dan jika kamu pernah berkata "semoga suatu hari mereka muncul bareng di film yang serius lagi", hari itu akhirnya tiba, dan jawabannya ternyata lebih dari yang pernah kamu minta.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....