Musik Lokal Tak Lagi Pinggiran, Kini Jadi Arus Utama

  • 10 Jun 2026 12:21 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar-Ada masa ketika mendengarkan musik lokal dianggap pilihan kedua. Playlist anak muda dipenuhi band Inggris, musisi Amerika, atau grup Korea. Namun beberapa tahun terakhir, situasinya berubah cukup drastis. Musik lokal bukan lagi pelengkap, melainkan mulai menjadi pilihan utama. Bukan karena rasa nasionalisme semata, tetapi karena kualitas, identitas, dan kedekatan ceritanya memang semakin relevan.

Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya lagu lokal yang mendominasi platform digital. Kompas mencatat lagu-lagu seperti "Sejenak" dari Biru Baru, "Egosentris" dari Alkateri, hingga karya-karya baru dari berbagai musisi independen berhasil menjadi bagian dari percakapan publik dan mendominasi tangga lagu digital. Yang menarik, sebagian besar karya tersebut tidak lahir dari formula industri yang terlalu aman. Mereka datang dengan karakter yang kuat dan identitas yang jelas.

Generasi sekarang juga tumbuh dengan kebiasaan mencari musik berdasarkan perasaan, bukan sekadar popularitas. Ketika seseorang sedang patah hati, quarter-life crisis, atau sekadar ingin ditemani perjalanan malam, mereka mencari lagu yang terasa dekat. Musik lokal berhasil mengisi ruang itu. Liriknya menggunakan bahasa yang akrab, referensinya dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan emosinya terasa lebih nyata dibanding sekadar tren global yang lewat begitu saja.

Media sosial tentu punya peran besar. TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts membuat banyak lagu lokal menemukan pendengarnya sendiri. Liputan6 dan Detik mencatat bahwa viralitas musik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir banyak didorong oleh platform digital yang membuat lagu-lagu lokal lebih mudah ditemukan oleh generasi muda. Namun viral saja tidak cukup. Lagu yang bertahan biasanya adalah lagu yang punya cerita dan mampu membangun koneksi emosional.

Menariknya, kebangkitan musik lokal tidak hanya terjadi di Jakarta atau kota besar. Musisi dari berbagai daerah mulai membawa identitasnya masing-masing ke panggung nasional. Lagu-lagu bernuansa daerah, dialek lokal, hingga eksplorasi instrumen tradisional kini tidak lagi dianggap niche. Justru di situlah daya tariknya. Pendengar mulai mencari sesuatu yang berbeda dari musik yang terlalu seragam.

Fenomena ini juga menunjukkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap karya lokal. Dulu label "lokal" sering dianggap kurang keren. Sekarang justru menjadi nilai tambah. Di berbagai komunitas musik, nama-nama seperti Hindia, .Feast, Barasuara, Fourtwnty, Biru Baru, Alkateri, hingga gelombang musisi independen baru sering menjadi bagian dari diskusi sehari-hari. Musik lokal tidak lagi meminta untuk didengar. Ia mulai didengarkan karena memang layak.

Kebangkitan musik lokal bukan tren sesaat. Ia adalah tanda bahwa pendengar Indonesia mulai percaya pada cerita mereka sendiri. Dan mungkin, ini yang paling menarik: setelah bertahun-tahun menoleh ke luar, generasi sekarang mulai menemukan bahwa suara yang paling dekat ternyata datang dari rumahnya sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....