Film Jangan Buang Ibu : Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kenapa Anak Lupa?

  • 03 Jun 2026 12:23 WIB
  •  Denpasar

RRI. CO.ID, Denpasar – Ada empat kata dalam judul film ini yang tidak butuh penjelasan panjang untuk langsung menghantam dada siapapun yang membacanya: Jangan Buang Ibu. Empat kata yang sederhana, tapi menyimpan kenyataan yang terlalu sering kita pura-pura tidak tahu, terlalu sering kita dorong ke sudut pikiran karena kesibukan yang selalu bisa kita jadikan alasan, dan terlalu sering baru kita sadari beratnya ketika semuanya sudah terlambat untuk diperbaiki.

Film drama keluarga penuh emosi ini diadaptasi dari novel bestseller Jangan Buang Ibu Nak karya Wahyu Dera Priangga yang sudah lebih dulu menyentuh jutaan pembaca, kini hadir di layar lebar dalam besutan sutradara Hadrah Daeng Ratu yang diharapkan mampu menggerakkan hati penonton untuk melihat kembali hubungan mereka dengan orang tua. Diproduksi oleh Leo Pictures dan resmi tayang mulai 25 Juni 2026 di XXI, CGV, Cinépolis, dan bioskop seluruh Indonesia, film berdurasi 119 menit ini tidak datang untuk menghakimi siapapun ia datang untuk mengajak kita jujur pada diri sendiri.

Duduk di kursi sutradara adalah Hadrah Daeng Ratu, sineas yang sudah dikenal kepekaannya dalam mengangkat kisah-kisah keluarga Indonesia yang menyentuh lapisan terdalam dari perasaan manusiawi. Naskahnya ditulis oleh Wahyu Derapriyangga penulis yang juga merupakan pengarang novel sumbernya sehingga setiap dialog, setiap ekspresi diam, dan setiap luka yang tersimpan di antara karakter-karakternya lahir dari pemahaman yang paling mendalam tentang cerita yang memang sudah lama ingin ia sampaikan. Diproduseri oleh Agung Saputra bersama rumah produksi Leo Pictures dengan Yasmin Napper sebagai executive producer, film ini mendapat rating 13+ dari LSF dan membawa deretan nama aktor terbaik Tanah Air dalam satu bingkai cerita yang tidak memberi penonton ruang untuk bernapas tanpa emosi

Ristiana (Nirina Zubir) adalah gambaran ibu yang paling kita kenal tapi paling jarang kita benar-benar lihat. Suaminya, Ridho (Dwi Sasono), meninggal dunia dan meninggalkan bukan hanya kekosongan kursi di meja makan, tapi juga tumpukan utang besar yang tidak pernah sempat diselesaikan semasa hidupnya dan Ristiana, bukannya roboh atau menyerah, justru diam-diam mengangkat semua itu sendirian tanpa pernah membiarkan anak-anaknya tahu betapa berat beban yang ia pikul.

Ia bekerja keras, ia berhemat sampai pada batas yang tidak masuk akal, dan di atas semua itu ia tetap hadir untuk sarapan pagi, untuk pertanyaan-pertanyaan kecil di malam hari, untuk peluk yang diberikan tanpa diminta. Bagi Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori), kehadiran Ristiana adalah sesuatu yang sudah sedemikian terbiasanya sampai mereka tidak lagi merasakannya sebagai hadiah, melainkan hanya sebagai latar belakang kehidupan yang pasti selalu ada.

Waktu berjalan, dan tiga anak Ristiana tumbuh menjadi orang dewasa yang masing-masing memiliki dunianya sendiri dunia yang semakin sibuk, semakin penuh prioritas baru, dan semakin sering menempatkan Ristiana di urutan yang tidak ia bayangkan dulu ketika pertama kali menggendong mereka satu per satu. Keputusan-keputusan Ristiana yang diambil sepanjang hidupnya yang tidak selalu bisa dipahami oleh anak-anak yang sudah terlanjur melihat dari kacamata mereka sendiri mulai menimbulkan konflik yang tidak datang sekaligus, melainkan menetes satu per satu seperti air yang lama-kelamaan melubangi batu paling keras sekalipun. Pernikahan salah satu anaknya menjadi pemantik yang menyulut kembali bara lama yang selama ini hanya tertimbun di bawah kesopanan sehari-hari, dan dari sana mulailah keluarga yang dulu hangat itu merasakan dingin yang tidak ada yang mau mengakui kehadirannya tapi semua orang bisa merasakannya.

Tidak ada adegan di film manapun yang lebih sunyi sekaligus lebih berteriak dari momen ketika Ristiana perempuan yang sudah menghabiskan seluruh waktu terbaiknya untuk memastikan anak-anaknya tidak pernah kekurangan apa pun duduk di kamar panti jompo dengan barang-barang yang hanya cukup untuk satu tas kecil. Di masa tuanya yang seharusnya diisi dengan kehangatan yang ia tanam puluhan tahun, Ristiana malah menghadapi hari-harinya sendirian dititipkan di sana oleh anak bungsunya, Tria, dalam sebuah keputusan yang bahkan tidak pernah hadir dalam mimpi buruknya sekalipun. Sementara Tama dan Dewi yang mengetahui ini tidak bisa tinggal diam, pertanyaan yang selama ini mereka hindari kini tidak bisa dihindarkan lagi: apakah masih ada waktu untuk kembali, untuk menebus, untuk hadir sebelum semuanya benar-benar terlambat dan penyesalan menjadi satu-satunya hal yang tersisa?

Jangan Buang Ibu berhasil berdiri tegak bukan karena ceritanya yang luar biasa rumit justru sebaliknya melainkan karena keberanian seluruh jajaran pemerannya untuk masuk ke dalam karakter yang tidak hitam putih, yang tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak sepenuhnya benar, persis seperti anggota keluarga nyata yang pernah kita kenal atau bahkan pernah kita jadikan cermin tanpa kita sadari.

Nirina Zubir menghadirkan Ristiana bukan sebagai ibu yang sempurna tanpa cela, melainkan sebagai perempuan yang mencintai dengan cara terbaiknya yang ia punya dan justru karena itulah karakter ini terasa begitu hidup dan begitu dekat sampai kamu tidak bisa menontonnya dari jarak yang aman. Refal Hady, Amanda Manopo, dan Saputra Kori menanggung beban emosional yang setara berat sebagai anak-anak yang bukan monster, tapi juga bukan pahlawan mereka adalah orang-orang biasa yang terlambat menyadari sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipelajari dengan cara yang menyakitkan.

Sutradara Hadrah Daeng Ratu tidak membangun Jangan Buang Ibu di atas drama tangis yang berlebihan ia membangunnya dari hal-hal yang sangat kecil dan sangat familiar: meja makan yang dulu penuh kini setengah kosong, telepon yang berbunyi dan tidak dijawab karena ada yang lebih mendesak, dan jarak yang tumbuh bukan karena kebencian tapi karena semua orang terlalu yakin bahwa masih ada waktu.

Dengan 119 menit yang tidak membuang satu momen pun, setiap adegan adalah cermin yang diletakkan di depan siapapun yang menonton dan kamu tidak selalu akan nyaman dengan apa yang kamu lihat di sana. Jangan Buang Ibu tayang mulai 25 Juni 2026 di XXI, CGV, Cinépolis, dan bioskop seluruh Indonesia dan bagi siapapun yang ibunya masih ada dan masih menunggu, mungkin hal paling penting yang perlu kamu lakukan setelah membaca ini bukan langsung membuka aplikasi pemesanan tiket, tapi membuka kontak di ponselmu dan menekan satu nomor yang tidak pernah benar-benar kamu lupakan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....