Film Dukun Magang : Skripsi Ditolak, Kuntilanak Hitam Malah Disambut!
- 03 Jun 2026 12:12 WIB
- Denpasar
RRI. CO.ID, Denpasar – Kalau kamu pernah merasa bahwa skripsi adalah bencana terbesar yang pernah kamu hadapi dalam hidup, Dukun Magang hadir untuk membuktikan bahwa bencana itu masih bisa level up jauh, jauh lebih jauh dari yang bisa kamu bayangkan sampai ke titik di mana kamu tidak lagi berurusan dengan dosen pembimbing yang sulit ditemui, tapi dengan Kuntilanak Hitam yang sudah dikurung selama 12 tahun dan kini bebas karena ulahmu sendiri. Film komedi horor segar dari Dens Vision Multimedia dan Wahana Pictures ini siap meramaikan layar bioskop Indonesia mulai 18 Juni 2026, membawa serta tawa yang tidak bisa ditahan sekaligus teror yang tidak bisa diabaikan dalam satu paket berdurasi 100 menit yang dijamin membuat kamu ingat untuk tidak sembarangan meneliti hal-hal yang tidak kamu mengerti.
Dukun Magang adalah buah kreativitas sutradara Chiska Doppert yang berhasil menemukan titik manis di antara dua genre yang tidak selalu mudah dipadukan: horor yang benar-benar menegangkan dan komedi yang benar-benar mengocok perut, tanpa salah satunya mengorbankan yang lain. Naskah film ini ditulis oleh Endik Koeswoyo, Mo Sidik, dan Adi Nugroho, dengan ide cerita dari Ki Semar RBS dan diproduseri oleh Sahrul Gibran dan Jems Sumartumin. Syuting dilakukan di Klaten, Jawa Tengah, dan bahkan di balik layar pun film ini sudah punya cerita tersendiri: pemeran utamanya, Jefan Nathanio, pernah ketiban plafon kamar hotel yang runtuh saat tidur pulas di tengah hujan deras seolah energi mistis Desa Kalimati sudah mulai bekerja jauh sebelum kamera pertama dinyalakan.
Raka Mahardika (Jefan Nathanio) adalah tipikal mahasiswa tingkat akhir yang hidupnya sudah cukup runyam hanya karena skripsi yang bolak-balik ditolak dosen pembimbingnya, Arief (Mo Sidik) dosen dengan standar yang tinggi tapi waktu bimbingan yang hampir tidak ada. Terpojok dan kehabisan ide, Raka akhirnya nekat mengambil topik yang paling ia benci sepanjang hidupnya: dunia perdukunan topik yang selama ini selalu ia anggap sebagai bualan belaka yang hanya dipercaya oleh orang-orang yang tidak cukup berpendidikan. Di sinilah Sekar (Hana Saraswati) masuk ke dalam kisah ini mahasiswi cerdas yang kebetulan berasal dari Desa Kalimati, desa terpencil yang terkenal dengan tradisi gaibnya yang pekat dan kuat, sekaligus pewaris tradisi mistis keluarganya sendiri yang selama ini ia jaga dengan sangat rapi. Sekar mengajak Raka pulang ke desanya, dan Raka dengan segala keyakinan rasionalnya yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun berkata iya, karena ia pikir ini hanya urusan observasi lapangan biasa.
Ditemani sahabatnya yang penakut, Boiman (Fajar Nugra) sosok yang sudah menjerit lebih dulu bahkan sebelum ada yang perlu ditakuti trio mahasiswa ini tiba di Desa Kalimati dengan catatan, kamera, dan skeptisisme yang masih utuh. Tapi tidak butuh waktu lama bagi desa itu untuk membuktikan bahwa keyakinan Raka tentang "semua itu tidak nyata" adalah keyakinan yang paling mahal harganya yang pernah ia pegang. Dalam satu momen yang tidak disengaja satu tindakan ceroboh yang dilakukan tanpa pemahaman tentang apa yang sedang ia sentuh Raka memicu kemarahan sebuah entitas yang sudah dikurung selama 12 tahun penuh: Kuntilanak Hitam, makhluk gaib yang tidak mengenal kata ampun dan kini bebas berkeliaran di seluruh desa karena seseorang yang tidak percaya pada hal gaib justru yang membebaskannya. Logika Raka yang selama ini menjadi andalannya pun mulai retak satu per satu dan tidak ada satu pun teori yang pernah ia pelajari di bangku kuliah yang bisa membantunya menghadapi kenyataan yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Satu-satunya harapan tersisa bagi Raka dan seluruh penduduk Desa Kalimati adalah Mbah Djambrong (Adi Sudirja), dukun legendaris yang sudah disegani warga sejak zaman yang tidak ada yang ingat kapan mulainya eksentrik, tidak terduga, dan punya cara mendidik yang tidak ada dalam pedoman pedagogi mana pun di dunia. Mbah Djambrong setuju membantu, tapi dengan satu syarat yang tidak bisa Raka tolak: ia harus magang belajar ilmu perdukunan dari nol, dari seorang mahasiswa yang bahkan tidak percaya hantu itu ada. Kurikulum magangnya pun tidak ada yang mudah: dari menjalani topo patigeni (bertapa tanpa makan dan minum), meracik kurungan ayam belang telon, hingga berburu tali pocong perawan di tengah malam semua harus dilalui Raka dalam waktu yang jauh lebih singkat dari yang dibutuhkan untuk memahaminya. Dan setiap sesi belajarnya menghadirkan campuran antara ketegangan nyata dan kelucuan yang tidak bisa kamu tahan meskipun sedang takut sekalipun.
Keunggulan Dukun Magang yang paling menonjol adalah keberanian sutradara Chiska Doppert untuk tidak memilih salah satu ia tidak mengorbankan horornya demi komedi, dan tidak mematikan komedinya demi horor. Teror dari Kuntilanak Hitam dihadirkan dengan bobot yang serius dan mencekam, sementara kepanikan Raka dan kekonyolan Boiman mengalir secara alami tanpa dipaksakan karena dalam kehidupan nyata pun, hal-hal paling menakutkan sering kali terjadi bersamaan dengan hal-hal paling konyol yang bisa dibayangkan. Karakter Sekar pun menambah lapisan menarik: ia bukan sekadar pemandu desa atau cinta pertama Raka, melainkan perempuan yang menyimpan dunia sendiri di balik kecerdasannya, pewaris tradisi yang memiliki sudut pandang paling unik terhadap semua yang terjadi di sekitarnya. Film ini adalah bukti bahwa horor dan komedi Indonesia bisa bersanding dengan setara tanpa saling merusak.
Dukun Magang tidak hanya menawarkan tawa dan teror di balik semua kekacauan yang menghantui Raka sepanjang 100 menit, ada cerita yang jauh lebih personal tentang seorang anak muda yang harus belajar menghormati hal-hal yang ia tidak pahami, bahwa dunia jauh lebih luas dari apa yang bisa dijelaskan oleh logika semata, dan bahwa kadang skripsi yang paling sulit adalah skripsi yang ditulis dengan nyawa. Dengan syuting di Klaten yang atmosfer desanya terasa hidup dan otentik, tim Chiska Doppert berhasil membangun dunia Desa Kalimati sebagai karakter tersendiri sebuah tempat yang terasa nyata, bukan sekadar latar belakang. Dukun Magang tayang mulai 18 Juni 2026 di XXI dan bioskop seluruh Indonesia dan kalau kamu pikir skripsimu adalah masalah terbesar saat ini, tontonlah film ini dan kamu akan pulang ke rumah dengan rasa syukur yang tidak pernah kamu rasakan sebelumnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....