Keluarga Suami Adalah Hama : Rumah Penuh, Hatiku Terlalu Sempit

  • 28 Mei 2026 11:34 WIB
  •  Denpasar

RRI. CO.ID, Denpasar – Film ini bergenre drama rumah tangga dengan nuansa psikologis yang kuat, menggambarkan benturan emosi, harapan, dan ego di balik pintu rumah yang terlihat layak baik. Tidak ada ledakan‑ledakan besar, tapi banyak adegan dibangun dari tatapan, diam yang panjang, dan kalimat yang diucapkan dengan suara biasa, padahal mengandung racun. Film ini sangat dekat dengan kisah generasi “sandwich” yang harus menopang keluarga, tetangga, dan mertua, sambil tetap mencoba mempertahankan rumah tangganya sendiri.

“Keluarga Suami Adalah Hama” resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 21 Mei 2026 di seluruh jaringan bioskop besar, seperti XXI, CGV, Cinepolis, dan bioskop‑bioskop utama lainnya di berbagai kota. Film ini disutradarai oleh Anggy Umbara, yang dikenal jago menangkap percakapan sehari‑hari dan mengemasnya menjadi sesuatu yang terasa sangat dekat, tapi tetap menyentuh.

Durasi film berkisar sekitar 1 jam 57 menit, cukup panjang untuk mengikuti perkembangan emosi Intan, Damar, dan keluarga besar tanpa terasa terburu‑buru maupun terlalu lambat. Film ini memiliki rating R13 / 13+ atau “semua usia dengan pengawasan”, karena terdapat banyak adegan tekanan psikologis, konflik keluarga, dan pembahasan isu mental yang bisa sangat mengganggu penonton di bawah usia remaja, terutama yang sedang mengalami ketegangan serupa di rumah.

Sinopsisnya, film ini tentang pasangan muda Damar (Omar Daniel) dan Intan (Raihaanun), yang baru memulai pernikahan dengan penuh harapan dan impian sederhana. Namun karena tekanan finansial, mereka terpaksa tinggal satu atap dengan keluarga besar Damar. Di awal, Intan berharap bisa membangun kedekatan dengan ibu mertua dan adik‑adik ipar, tapi seiring waktu, ia justru merasa semakin jauh. Ia mulai dipanggil dengan tugas yang terlalu berat, dihakimi setiap hari, dan dianggap bukan menantu, tapi “pembantu” yang ada untuk menuruti semua permintaan. Di sisi lain, Damar, sebagai anak tertua dan tumpuan keluarga, terjebak di tengah loyalitas terhadap ibu dan adik‑adik, serta rasa sakit melihat pernikahannya yang mulai retak.

Di tengah semua itu, Intan mencoba tetap bertahan, namun tekanan yang terus berdatangan perlahan menghancurkan kepercayaan dan stabilitas mentalnya. Ia mulai mempertanyakan apakah ia masih menikah dengan Damar, atau dengan “keluarga suaminya” yang selalu hadir di antara mereka. Di bagian akhir, film tidak memberi solusi klise seperti “semua berakhir bahagia”, tapi justru menawarkan pilihan yang jujur: siapakah yang harus berani berdiri sendiri lebih dulu, dan apakah Intan masih punya keberanian untuk memilih dirinya sendiri tanpa merasa bersalah. “Keluarga Suami Adalah Hama” pada akhirnya bukan hanya soal satu keluarga, tapi cerminan banyak rumah di Indonesia yang dihuni oleh orang‑orang yang tahu batas, tetapi tidak pernah diberi ruang untuk mengucapkannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....