Profesi Keamanan Siber: Dibutuhkan, tapi Pekerjanya Disebut Tidak Bahagia

  • 28 Mei 2026 12:44 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Perkembangan teknologi digital membuat kebutuhan tenaga keamanan siber semakin tinggi di berbagai negara. Namun di balik pentingnya profesi ini, banyak pekerja keamanan siber justru merasa kurang dihargai dan mulai mempertimbangkan untuk pindah kerja.

Laporan Global Technology Talent & Salary Report dari Harvey Nash menunjukkan kondisi tersebut terjadi di banyak perusahaan teknologi dunia. Meski ancaman serangan siber terus meningkat, hanya sebagian kecil profesional keamanan siber yang mendapatkan kenaikan gaji dalam beberapa tahun terakhir.

Dari lebih dari 3.600 profesional teknologi yang disurvei, hanya sekitar 29% pekerja keamanan siber mengaku pendapatannya naik. Angka ini jauh lebih rendah dibanding profesi teknologi lain seperti DevOps, manajemen produk, dan analis bisnis yang mayoritas pekerjanya memperoleh kenaikan gaji.

Padahal, peran tim keamanan siber semakin penting karena perusahaan kini menghadapi ancaman digital yang makin kompleks. Mulai dari pencurian data, ransomware, hingga serangan berbasis artificial intelligence (AI) terus berkembang dengan metode yang semakin sulit dideteksi.

Ankur Anand dari Nash Squared menilai banyak perusahaan masih belum benar-benar memahami pentingnya tim keamanan siber. “Ironisnya, tim keamanan yang paling banyak mencegah kerusakan justru paling sedikit mendapat pengakuan,” katanya.

Menurut Anand, pekerjaan keamanan siber memang sering tidak terlihat hasilnya. Ketika sistem aman dan tidak ada serangan, banyak perusahaan menganggap semuanya berjalan normal tanpa menyadari ada tim yang bekerja keras di balik layar.

Sebaliknya, jika terjadi kebocoran data atau serangan besar, tim keamanan biasanya menjadi pihak pertama yang disorot. Tekanan kerja seperti ini membuat banyak profesional keamanan siber mengalami stres dan kelelahan dalam bekerja.

Survei tersebut juga menunjukkan sekitar 23% pekerja keamanan siber merasa tidak bahagia dengan pekerjaannya. Bahkan hampir separuh responden mengaku berencana mencari pekerjaan baru dalam waktu satu tahun ke depan.

Situasi ini diperparah dengan semakin rumitnya sistem teknologi perusahaan modern. Banyak organisasi masih menggunakan sistem lama yang sulit diamankan, sementara ancaman siber terus berkembang lebih cepat dari kemampuan perlindungan yang dimiliki perusahaan.

Di sisi lain, perkembangan AI turut membawa tantangan baru di dunia keamanan digital. Teknologi AI kini mampu membantu peretas menemukan celah keamanan dengan lebih cepat dan otomatis dibanding sebelumnya.

Anand menyebut kemunculan sistem AI canggih seperti Anthropic Mythos menunjukkan ancaman siber bisa berkembang jauh lebih agresif. “Perkembangan ini menunjukkan bagaimana AI dapat menemukan semua kerentanan tersembunyi dalam sistem,” ujarnya.

Meski begitu, AI tidak selalu menjadi ancaman bagi pekerja keamanan siber. Banyak profesional justru mulai memanfaatkan AI untuk membantu mendeteksi serangan, menganalisis ancaman, dan mempercepat proses perlindungan sistem.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Penggunaan AI dinilai bisa membantu mengurangi beban kerja yang selama ini sangat tinggi di bidang keamanan siber. Namun para ahli menilai peran manusia tetap penting karena keputusan keamanan digital tetap membutuhkan analisa dan pengawasan langsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....