Bermain Game Terasa Membosankan saat Dewasa

  • 16 Mei 2026 21:43 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Memiliki konsol game generasi terbaru, komputer berspesifikasi tinggi, dan pustaka game yang penuh merupakan impian bagi banyak orang semasa kecil. Namun, saat impian tersebut berhasil diwujudkan di usia dewasa, tidak sedikit pencinta game yang justru kehilangan gairah untuk memainkannya.

Fenomena ketika seseorang hanya menatap layar dashboard konsol selama beberapa menit, lalu mematikannya kembali tanpa memainkan game apa pun, kini marak terjadi di kalangan usia produktif. Dalam budaya pop modern, kondisi ini dikenal dengan istilah gamer fatigue atau kejenuhan bermain game.

Secara psikologis, fenomena ini berkaitan erat dengan teori Choice Overload atau kelebihan pilihan yang dipopulerkan oleh psikolog Prof. Sheena Iyengar dari Columbia Business School melalui eksperimen terkenalnya, The Jam Experiment. Dalam riset tersebut dibuktikan bahwa ketika manusia dihadapkan pada terlalu banyak pilihan, otak akan mengalami kelumpuhan keputusan (decision paralysis) dan berujung pada rasa frustrasi. Hal inilah yang dirasakan pencinta game dewasa saat melihat ratusan daftar game digital (backlog) milik mereka.

Faktor industri game modern turut andil dalam memicu kejenuhan ini. Dalam buku "Blood, Sweat, and Pixels" karya jurnalis investigasi game Jason Schreier, diungkapkan bagaimana industri saat ini berlomba-lomba membuat game dengan konsep dunia terbuka (open-world) yang menuntut komitmen waktu hingga ratusan jam. Bagi seorang pekerja yang sudah menghabiskan energi mentalnya di kantor, tuntutan penyelesaian misi yang kompleks ini justru terbaca oleh otak sebagai "pekerjaan kedua", bukan lagi sarana hiburan.

Perubahan ini juga dijelaskan dalam studi yang dimuat dalam Journal of Media Psychology mengenai motivasi bermain game berdasarkan Self-Determination Theory (SDT). Studi tersebut menyebutkan bahwa saat seseorang beranjak dewasa, kebutuhan kognitifnya bergeser. Otak yang lelah akibat stres kerja akan menurunkan sensitivitasnya terhadap hormon dopamin yang dihasilkan dari tantangan game, sehingga permainan seindah apa pun akan terasa hambar.

Untuk mengatasi dampak gamer fatigue dan mengembalikan fungsi game sebagai media rekreasi, para psikolog menyarankan strategi batasan minimal. Langkah utamanya adalah dengan menerapkan metode monogamous gaming, yaitu hanya menginstal dan fokus pada satu game linier yang selesai dalam waktu singkat, demi mengurangi beban pengambilan keputusan pada otak.

Selain itu, beralih dari game kompetitif ke genre cozy games yang menekankan pada estetika visual dan musik yang menenangkan, seperti gaya animasi Studio Ghibli, dapat menjadi terapi penyegaran yang efektif. Menjaga jarak yang sehat dengan layar gawai juga membantu mengembalikan rasa rindu dan keseruan terhadap hobi ini.

Bermain game pada hakikatnya adalah tentang menikmati proses dan rekreasi mental. Menyadari kapan tubuh membutuhkan istirahat nyata di luar dunia virtual merupakan kunci agar hobi ini tetap memberikan kebahagiaan, tanpa berubah menjadi beban baru di tengah padatnya aktivitas kedewasaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....