Film dalam Sujudku Sujud Sunyi saat Cinta Mulai Retak
- 14 Apr 2026 08:59 WIB
- Denpasar
RRI. CO.ID, Denpasar – Dalam Sujudku hadir sebagai drama religi yang menyentuh hati, bukan hanya karena ceritanya dekat dengan kehidupan rumah tangga, tetapi juga karena ia membawa emosi yang terasa jujur dari awal sampai akhir. Film ini bicara tentang cinta, kesetiaan, luka, dan doa, lalu merangkainya dalam suasana yang tenang tetapi penuh tekanan batin. Dari judulnya saja, film ini sudah memberi isyarat bahwa sujud bukan sekadar gerakan ibadah, melainkan tempat seseorang mencari pegangan saat hidup mulai runtuh.
Film ini mulai tayang di bioskop Indonesia pada 16 April 2026 dan bisa dinikmati di jaringan bioskop seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis. Kehadirannya di layar lebar menjadi salah satu tontonan drama religi yang cukup menonjol pada pertengahan April 2026. Dengan jadwal rilis yang jelas dan sebaran bioskop yang luas, film ini mudah dijangkau penonton yang ingin menyaksikan kisah emosional dengan sentuhan spiritual.
Dari sisi teknis, Dalam Sujudku berdurasi 1 jam 57 menit atau sekitar 117 menit, dengan rating penonton D17. Film ini disutradarai oleh Rico Michael dan diproduksi oleh P69 Indonesia / Proj3ct69. Kombinasi ini membuat film terasa punya identitas yang kuat sebagai drama religi modern yang tetap dekat dengan realitas sehari-hari.
Cerita berpusat pada Aisyah, seorang istri yang dikenal sabar dan taat, lalu harus menghadapi kenyataan pahit ketika pernikahannya berubah arah. Ia menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya, Farid, yang merantau ke Jakarta, dan jarak yang awalnya tampak biasa justru perlahan menjadi celah yang meretakkan kepercayaan. Dari sini, film langsung masuk ke konflik emosional yang dekat dengan kehidupan banyak orang: komunikasi yang renggang, kesepian, dan rasa kehilangan yang pelan-pelan menumpuk.
Puncak masalah muncul saat Aisyah mengetahui bahwa Farid berselingkuh dengan perempuan lain bernama Rina. Kejadian ini menghancurkan ketenangan yang selama ini ia jaga, sekaligus menempatkannya di persimpangan sulit antara bertahan atau melepaskan. Yang membuat film ini menarik adalah caranya menggambarkan sakit hati tanpa berlebihan, lalu mengarahkan tokohnya untuk mencari kekuatan lewat doa, bukan kemarahan semata.
Di tengah luka itu, Aisyah memilih jalan sunyi: mendekatkan diri kepada Tuhan lewat sujud yang panjang dan penuh harap. Sujud di film ini terasa seperti simbol penyerahan diri, tempat seseorang berhenti melawan keadaan dan mulai mencari makna yang lebih dalam. Film juga memperlihatkan bahwa memaafkan bukan perkara mudah, apalagi saat hati sudah terlanjur pecah, sehingga setiap keputusan Aisyah terasa berat dan manusiawi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....