Budaya Ghosting : antara Takut Konfrontasi dan Kurang Empati

  • 26 Mar 2026 17:57 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, cara manusia menjalin dan mengakhiri hubungan pun ikut berubah. Jika dahulu perpisahan identik dengan percakapan langsung yang penuh kejelasan, kini banyak relasi berakhir dalam diam tanpa penjelasan. Fenomena ini dikenal sebagai ghosting.

Melansir dari BBC, ghosting merujuk pada perilaku seseorang yang tiba-tiba memutus komunikasi tanpa penjelasan baik dalam hubungan pertemanan, percintaan, maupun profesional. Kemudahan teknologi membuat seseorang dapat menghilang begitu saja dengan tidak membalas pesan.

Mengutip dari Psychology Today, salah satu faktor utama di balik ghosting adalah ketakutan terhadap konfrontasi. Banyak individu merasa tidak nyaman untuk menyampaikan perasaan secara jujur terutama dalam mengutarakan penolakan. Akhirnya, ghosting menjadi jalan pintas untuk menghindari konflik.

Ghosting juga mencerminkan rendahnya empati dalam hubungan interpersonal. Dalam interaksi sering terasa lebih impersonal sehingga seseorang cenderung melupakan bahwa di balik layar terdapat individu dengan perasaan yang nyata.

Verywell Mind mengungkapkan kurangnya empati ini dapat menyebabkan pelaku ghosting tidak mempertimbangkan dampak emosional yang dialami oleh pihak yang ditinggalkan. Dampak psikologis dari ghosting tidak bisa dianggap sepele karena korban ghosting bisa mengalami kebingungan, penurunan rasa percaya diri hingga overthinking. Dalam beberapa kasus, pengalaman ini bisa mempengaruhi cara seseorang membangun hubungan di masa depan.

Ghosting kini mulai dinormalisasi dalam budaya modern karena banyak orang menganggap perilaku ini adalah hal lumrah. Akibatnya, etika berkomunikasi menjadi lebih longgar dan menciptakan pola hubungan yang dangkal serta kurang bertanggung jawab.

Komunikasi yang jujur dan terbuka merupakan kunci dalam membangun hubungan yang sehat. Mengakhiri hubungan dengan memberikan penjelasan meskipun singkat dapat mengurangi dampak emosional negatif. Sikap ini lebih mencerminkan kedewasaan emosional serta etika menghargai perasaan orang lain.

Budaya ghosting menjadi cerminan tantangan dalam membangun empati di era digital. Penting bagi setiap individu untuk mengedepankan nilai kemanusiaan dalam berinteraksi dan tidak sekedar mengandalkan kemudahan teknologi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....