Jenis Data Pribadi yang Tidak boleh Bocor

  • 24 Mar 2026 11:41 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Dalam ekosistem digital Indonesia tahun 2025-2026, data pribadi telah menjadi aset bernilai tinggi yang bisa membobol pertahanan keamanan paling kuat sekalipun. Pelaku kejahatan siber kini tidak hanya mengincar satu jenis informasi, tetapi menggabungkan berbagai elemen data untuk melakukan serangan bertingkat yang sangat meyakinkan.

Nomor Induk Kependudukan (NIK) adalah “kunci induk” bagi hampir semua layanan publik dan privat di Indonesia. Penyalahgunaan NIK bisa digunakan untuk membuka rekening bank bodong, mendaftar kartu SIM anonim, atau mengajukan pinjaman online ilegal, dan karena NIK tidak dapat diganti, bocornya informasi ini bisa menjadi ancaman jangka panjang.

One-Time Password (OTP) merupakan benteng terakhir dalam transaksi digital, namun paling sering diserang melalui manipulasi psikologis. Penipu sering berpura-pura menjadi petugas bank atau admin layanan untuk meminta kode ini, dan menyerahkan OTP sama saja dengan menyerahkan kunci rumah, pelaku bisa menguras rekening atau mengambil alih akun digital korban.

Data biometrik, seperti wajah, sidik jari, dan suara, juga mulai dieksploitasi oleh AI. Foto selfie dengan KTP dapat disalahgunakan untuk verifikasi digital tanpa izin, sementara teknologi deepfake dan voice cloning memungkinkan pelaku menipu melalui video atau panggilan telepon palsu, menargetkan keluarga atau rekan kerja korban.

Lokasi dan metadata yang terkandung di balik file atau foto juga menjadi alat penting untuk penjahat siber. Metadata GPS pada foto atau izin akses aplikasi memungkinkan pelaku mengetahui lokasi dan kebiasaan korban, sehingga skenario soceng dapat dibuat sangat personal, seperti mengaku melihat korban baru saja dari suatu lokasi dan menargetkan paket fiktif.

Risiko terbesar muncul ketika penipu menggabungkan beberapa elemen data sekaligus. Metadata lokasi menentukan waktu penelponan, NIK digunakan untuk meyakinkan korban bahwa pelaku resmi, dan OTP menjadi target akhir untuk eksekusi finansial. Strategi ini membuat korban sulit membedakan mana ancaman nyata dan palsu.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Langkah pencegahan utama meliputi penghapusan metadata sebelum mengirim foto sensitif, menggunakan aplikasi dengan fitur verifikasi biometrik “liveness detection”, dan tidak pernah membagikan OTP kepada pihak manapun karena institusi resmi tidak akan meminta kode tersebut. Apabila setiap risiko telah dipahami dengan baik oleh pengguna, dan menerapkan langkah-langkah ini, masyarakat dapat memperkuat pertahanan diri terhadap serangan soceng dan pencurian identitas digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....