FOMO dan Rendahnya Literasi Digital Penyebab Tingginya Korban Kejahatan Siber
- 24 Mar 2026 11:34 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Fenomena FOMO (fear of missing out) dan kecenderungan mudah panik menjadi salah satu faktor utama yang membuat masyarakat Indonesia rentan terhadap serangan rekayasa sosial (rekayasa sosial). Kombinasi antara budaya sosial, perilaku digital, dan rendahnya literasi siber menciptakan celah yang dimanfaatkan pelaku untuk menipu korban melalui manipulasi psikologis.
Dirangkum dari berbagai sumber, budaya komunal yang kuat dalam masyarakat Indonesia diduga menjadi salah satu faktor penyebab kedua perilaku tersebut mudah untuk berkembang. Dorongan untuk selalu mengikuti tren dan mendapatkan validasi sosial, seperti melalui likes dan komentar di media sosial, membuat banyak orang merasa takut tertinggal sehingga lebih mudah terpengaruh informasi yang belum tentu benar.
Tingginya penggunaan media sosial juga memperparah kondisi ini. Paparan informasi yang terus-menerus membuat pengguna rentan mengalami kecemasan sosial, terutama ketika melihat aktivitas orang lain yang tampak lebih “update” atau sukses, sehingga memicu reaksi impulsif tanpa verifikasi. Data menunjukkan bahwa fenomena ini cukup signifikan di Indonesia. Sebuah studi tahun 2021 mencatat sekitar 64,6% remaja Indonesia mengalami FOMO, yang berkontribusi pada tingginya kerentanan terhadap manipulasi digital dan penipuan berbasis psikologi.
Di sisi lain, literasi digital yang masih rendah menjadi faktor krusial. Banyak pengguna internet di Indonesia belum mampu membedakan antara informasi asli dan penipuan, serta belum memahami pentingnya menjaga data sensitif seperti OTP, PIN, atau kata sandi.
Pelaku rekayasa sosial kemudian memanfaatkan kondisi tersebut dengan menciptakan urgensi palsu. Modus seperti “akun akan diblokir,” “menang hadiah terbatas,” atau “keluarga mengalami kecelakaan” dirancang untuk memicu kepanikan sehingga korban langsung bertindak tanpa berpikir rasional.
Secara psikologis, saat seseorang panik, otak cenderung mengambil keputusan cepat berbasis emosi, bukan logika. Hal ini diperkuat dengan kecenderungan masyarakat yang mudah percaya pada figur otoritas, sehingga pelaku sering menyamar sebagai pihak bank, polisi, atau institusi resmi lainnya.
Kesimpulannya, kombinasi antara FOMO, kepanikan, dan kurangnya literasi digital menciptakan ekosistem yang ideal bagi pelaku kejahatan siber. Oleh karena itu, meningkatkan kesadaran, kemampuan verifikasi informasi, serta kontrol emosi menjadi kunci utama untuk melindungi diri dari ancaman rekayasa sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....