Drakor Jisoo BLACKPINK : Boyfriend On Demand, Cinta Virtual Ganggu Realita Kantoran

  • 07 Mar 2026 15:01 WIB
  •  Denpasar

RRI. CO.ID, Denpasar – “Boyfriend On Demand” adalah drama Korea bergenre romantic comedy, office drama, dan sci‑fi ringan yang mengajak penonton membayangkan apa jadinya kalau jasa pacar langganan tidak lagi berupa chat biasa, melainkan simulasi kencan virtual yang nyaris terasa lebih nyata daripada dunia sungguhan. Drama ini terdiri dari 10–12 episode berdurasi sekitar 60 menit per episode, disutradarai Kim Jung‑sik dan ditulis oleh Namgung Do‑young, dengan Jisoo sebagai Seo Mi‑rae dan Seo In‑guk sebagai Park Gyeong‑nam di barisan pemeran utama. Serial ini dirilis sebagai tontonan original di Netflix mulai 6 Maret 2026, sehingga bisa ditonton secara global termasuk di Indonesia lengkap dengan takarir bahasa Indonesia.

Cerita berpusat pada Seo Mi‑rae, seorang produser webtoon yang setiap hari hidup dikejar deadline, komentar pembaca yang tak ada habisnya, dan tuntutan atasan yang menganggap lembur sampai dini hari adalah hal biasa. Di tengah rutinitas kantor yang dingin dan kursi kerja yang nyaris menjadi rumah kedua, Mi‑rae diam‑diam memimpikan kisah cinta lembut yang bisa membuatnya merasa dilihat sebagai manusia, bukan hanya mesin penghasil ide cerita baru. Masalahnya, pengalaman masa lalu dan rasa lelah sosial membuatnya alergi pada hubungan nyata yang penuh risiko penolakan dan gosip kantor, hingga suatu hari ia tanpa sengaja menerima sebuah perangkat misterius bernama “Monthly Boyfriend”—gerbang menuju layanan virtual Boyfriend On Demand.

Perangkat itu memungkinkan Mi‑rae memasuki dunia digital yang dirancang seperti drama romantis interaktif: satu klik saja, ia bisa memilih tipe pacar ideal, latar kencan, bahkan dialog manis yang ingin ia dengar. Awalnya, semua tampak seperti pelarian yang sempurna—di dunia virtual tersebut, Mi‑rae ditemani pria‑pria “sempurna secara tidak realistis”, dari chef lembut yang jago memasak sampai CEO dingin yang hanya melunak untuknya. Setiap skenario berjalan mulus, tanpa chat digantung, tanpa ghosting, tanpa kecanggungan yang biasanya menghantui kencan dunia nyata; dan setiap kali keluar dari simulasi, ia merasa dopamin dalam dirinya seperti di‑“charge ulang”.

Namun, di sisi lain kehidupan Mi‑rae, ada Park Gyeong‑nam, rekan kerja sekaligus rival produser webtoon yang reputasinya di kantor adalah “pekerja teladan yang agak menyebalkan”. Bagi Mi‑rae, Gyeong‑nam adalah paket lengkap masalah: perfeksionis, sulit diajak kompromi, dan selalu mengkritik naskahnya tepat di titik yang paling menyentuh ego. Anehnya, justru di momen‑momen lembur sepi ketika hanya mereka berdua yang tersisa di kantor, percakapan singkat tentang makanan favorit, kesulitan orang tua, dan mimpi masa kecil perlahan membuka sisi lain Gyeong‑nam—sisi yang jauh lebih hangat dan berantakan daripada para “pacar” di dunia virtual.

Konflik mulai mengental ketika dunia digital dan nyata Mi‑rae saling bertabrakan: di satu sisi, ia mulai ketagihan pada kepastian manis yang ditawarkan Boyfriend On Demand, di sisi lain, interaksinya dengan Gyeong‑nam di kantor secara perlahan menyalakan kembali “sel‑sel cinta” yang lama ia matikan. Batas di kepalanya antara dialog scripted dalam simulasi dan percakapan spontan di dunia nyata menjadi kabur—ada kalimat yang ia dengar dari pacar virtual, lalu tiba‑tiba sangat mirip dengan cara Gyeong‑nam menghiburnya setelah presentasi kacau. Pertanyaan pun muncul: apakah yang ia kejar selama ini adalah kesempurnaan digital yang steril dari konflik, atau justru hubungan nyata yang tidak selalu indah tetapi punya bobot emosional lebih jujur?

Seiring episode berjalan, Mi‑rae harus menghadapi konsekuensi dari pelariannya: performa kerjanya terancam, garis antara inspirasinya sebagai produser webtoon dan pengalaman pribadi makin tipis, dan ia harus memilih apakah akan terus bersembunyi di balik avatar yang bisa ia matikan kapan saja, atau membuka hati pada seseorang yang bisa saja melukai, tetapi juga benar‑benar membalas perasaannya. Di titik inilah drama tidak hanya bicara tentang cinta, tetapi juga tentang burnout, kesehatan mental pekerja kreatif, dan bagaimana teknologi kadang menjadi obat sementara yang jika dikonsumsi berlebihan justru memperpanjang luka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....