The Art of Sarah: Manipulasi Jadi Cara Bertahan

  • 03 Mar 2026 21:03 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Drama Korea The Art of Sarah menghadirkan potret karakter perempuan yang kompleks dan penuh lapisan psikologis. Sarah bukan hanya sosok misterius, tetapi juga gambaran seseorang yang terdesak keadaan hingga perlahan berubah arah hidupnya.

Awalnya, ia hanyalah pegawai biasa yang berusaha bekerja dengan baik. Namun kesialan yang datang bertubi-tubi dan tekanan finansial yang berat membuatnya terjebak dalam lingkaran utang serta rasa putus asa.

Dalam kondisi terjepit, manipulasi mulai muncul sebagai mekanisme bertahan. Konsep ini sejalan dengan teori defense mechanisms dalam psikologi yang dipopulerkan oleh Anna Freud dalam bukunya The Ego and the Mechanisms of Defence (1936), yang menjelaskan bagaimana individu melindungi diri dari kecemasan melalui distorsi realitas.

Selain itu, penelitian mengenai stres dan pengambilan keputusan moral menunjukkan bahwa tekanan ekstrem dapat memengaruhi penilaian etis seseorang. Studi tentang emosi moral oleh June Tangney dan kolega (2007) menjelaskan bahwa rasa malu dan ancaman terhadap harga diri dapat mendorong perilaku defensif.

Melalui perjalanan Sarah, penonton diajak memahami bahwa manipulasi tidak selalu lahir dari niat jahat, melainkan dari kebutuhan untuk bertahan. Namun seperti yang juga ditekankan dalam literatur psikologi, mekanisme pertahanan yang terus-menerus digunakan tanpa refleksi justru dapat merusak hubungan dan identitas diri dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....