Egosentris Alkateri: Cermin Ego Generasi yang Gelisah
- 28 Feb 2026 12:59 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Lagu Egosentris dari Alkateri terasa seperti refleksi jujur tentang manusia yang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, tapi di sisi lain juga takut tidak dilihat. Judulnya saja sudah jelas mengarah pada satu kata kunci: pusat diri.
Dalam psikologi, egosentrisme adalah kecenderungan melihat dunia dari sudut pandang sendiri. American Psychological Association menjelaskan bahwa pola ini sering muncul ketika seseorang sulit mengambil perspektif orang lain, terutama saat emosi sedang dominan.
Pada bagian verse pertama, “Meraba, alurnya nalar di bawah jingga. Yang tak pernah mungkin terbayar” menggambarkan usaha memahami situasi, tapi tetap dibayangi harapan akan imbal balik.
Ada pertanyaan berulang: kapan, di mana, bagaimana, apa, mengapa. Barisan kata tanya itu terasa seperti dialog internal yang terus diputar.
Banyak orang pernah ada di fase ini mencari jawaban, tapi sekaligus ingin pengakuan. Ketika semua dipertanyakan, yang sebenarnya dicari sering kali bukan solusi, melainkan validasi.
Pre-chorus memperkuat motif itu: “Senangnya hati, Menembus sekat, memaksa takdir, Guna ingin terlihat hadir.” Kalimat ini menunjukkan dorongan untuk eksis, bahkan sampai melewati batas.
Dalam perspektif sosial, dorongan untuk “terlihat” memang kuat, apalagi di era media sosial. Psychology Today pernah membahas bahwa kebutuhan untuk diakui bisa mendorong perilaku yang agresif dalam menunjukkan kehadiran, meskipun tidak selalu disadari.
Verse kedua membawa sisi reflektif yang lebih dalam. “Angannya, terus berlari tak mempelajari. Salah sesal di dalam diri” memperlihatkan pola mengulang kesalahan tanpa benar-benar belajar.
Ada keinginan cepat untuk mendapatkan hasil atau respons, tapi proses evaluasi diri sering terlewat. Lirik “Namun mujur tetaplah duka” terdengar seperti paradoks harapan tinggi, tapi realitas tidak selalu sejalan.
Ini mencerminkan kondisi ketika ekspektasi pribadi terlalu dominan sehingga kekecewaan terasa lebih berat. Bagian chorus menjadi inti pesan lagu: “Egosentris, mengambil peran di atas nalar, Yang tak pernah mungkin sepadan.”
Pengulangan kata ini menegaskan bahwa ego yang berlebihan bisa menutupi logika. Dalam kajian perilaku, Harvard Business Review menyoroti bahwa keputusan yang didorong ego sering mengabaikan perspektif luar, sehingga hasilnya tidak selalu sepadan dengan usaha yang dikeluarkan.
Pengulangan frasa di lagu ini seperti alarm—bahwa pola itu bisa terus menjalar jika tidak disadari. Secara keseluruhan, Egosentris bukan sekadar kritik terhadap orang lain, tetapi juga cermin untuk diri sendiri.
Lagu ini mengajak pendengar bertanya: apakah kita bergerak karena kesadaran, atau karena ingin dilihat? Ketika “egosentris menjalar” disebut di akhir, rasanya seperti penegasan bahwa sifat ini bisa hadir tanpa disadari, dan mungkin justru di situlah tantangannya—mengakui bahwa kadang, kita semua pernah menjadi pusat dari cerita yang terlalu kita paksakan sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....