Impulsive Buying, Kenapa Kita Sering Kalap Belanja?

  • 26 Feb 2026 09:20 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Pernah tidak, awalnya hanya ingin “lihat-lihat”, tapi akhirnya checkout lebih dari tiga barang sekaligus?. Atau datang ke minimarket untuk membeli satu produk, lalu keluar dengan kantong belanja penuh?. Fenomena ini dikenal sebagai impulsive buying yaitu kebiasaan membeli sesuatu secara spontan tanpa perencanaan matang.

Melansir dari eraspace, com. Impulsive buying menggambarkan kebiasaaan memberli sesuatu secara mendadak atau spontan, tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Biasanya terjadi karena dorongan emosi sesaat dan bukan jangka panjang yang berujung penyesalan. Berikut hal-hal yang menyebabkan kita sering kalap belanja.

  1. Pengaruh Emosi

Banyak orang berbelanja untuk memperbaiki suasana hati saat sedang lelah atau stress karena berbelanja bisa memberi rasa senang instan. Melansir dari halodoc.com, otak melepas dopamine yaitu “hormone Bahagia” sehingga petualangan belanja baru melepaskan lebih banyak bahan kimia peningkat suasana hati di otak dan tubuh.

  1. Diskon dan Promo yang Menggoda

Tulisan “Flash Sale”, “Limited Edition”, atau “Diskon 70%” memicu rasa takut ketinggalan (fear of missing out). Kita merasa harus segera membeli sebelum kesempatan atau harga murah tersebut hilang. Padahal, sering kali barang tersebut bukan kebutuhan mendesak.

  1. Kemudahan Akses Belanja Online

Hanya dengan satu klik, barang bisa langsung dipesan dan diantar ke rumah. Sistem pembayaran digital dan fitur buy now, pay later semakin mempermudah transaksi. Tanpa perlu keluar rumah, godaan belanja ada di genggaman setiap saat.

  1. Strategi Marketing yang Cerdas

Tata letak toko, barang yang disusun sesuai warna nya menciptakan ilusi mata yang menarik perhatian. Algoritma media sosial melalui promosi juga membuat kita terasa lebih akrab dengan produk dan terdorong untuk membelinya.

  1. Kurangnya Perencanaan Keuangan

Tidak memiliki daftar belanja atau anggaran yang jelas sehingga pengeluaran mudah membengkak. Hal ini dikarenakan tidak ada batasan yang tegas terhadap keuangan yang membuat keputusan spontan lebih sering terjadi.

Impulsive buying bisa memicu penyesalan, stress finansial, bahkan konflik dalam keluarga karena adanya perasaan bersalah. Perlu adanya kontrol diri karena menikmati hasil kerja keras sendiri tetap penting.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....