Rivalitas Britpop yang Lebih Ribut dari Musiknya

  • 24 Feb 2026 10:23 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Kalau Britpop itu pesta besar musik Inggris tahun 90-an, Blur dan Oasis adalah dua tamu yang paling berisik. Bukan cuma soal lagu, tapi soal identitas, kelas sosial, dan ego. NME pernah menyebut rivalitas Blur vs Oasis sebagai “perang budaya yang kebetulan pakai gitar.” Kedengarannya lebay, tapi faktanya memang segitunya.

Blur datang dari London Selatan dengan aura seni, ironi, dan observasi sosial. Lagu-lagunya sering terdengar seperti potret kehidupan sehari-hari Inggris, kadang nyinyir, kadang jenaka. Oasis kebalikannya: lahir dari Manchester, membawa sikap working class yang lantang, penuh percaya diri, dan nggak takut bilang mereka band terbaik di dunia.

The Guardian mencatat Blur mewakili “middle-class art school kids,” sementara Oasis adalah suara pub, stadion, dan mimpi besar kelas pekerja. Opini santainya: yang satu mikir, yang satu teriak.

Puncak rivalitas ini pecah tahun 1995, saat Blur dan Oasis merilis single di hari yang sama: Country House versus Roll With It. Media Inggris langsung menjadikannya ajang adu gengsi nasional. BBC Music menyebut momen ini sebagai “The Battle of Britpop.” Blur menang di tangga lagu, Oasis menang di hati publik jangka panjang. Dua-duanya ngotot menang, dan publik menikmati keributannya.

Yang bikin seru, rivalitas ini nggak cuma soal musik, tapi juga soal sikap hidup. Blur sering terlihat reflektif dan kadang ragu pada dirinya sendiri. Oasis? Pede setengah mati. Noel Gallagher pernah bilang Blur itu “band sampah,” sementara Damon Albarn belakangan mengakui rivalitas ini terlalu dibesar-besarkan media. Rolling Stone menyebut konflik mereka sebagai contoh klasik bagaimana industri musik bisa memelihara drama demi penjualan. Jujur aja: kita semua ikut kemakan dramanya.

Secara musikal, perbedaan mereka jelas. Blur bereksperimen, berubah-ubah, dan berani belok arah. Oasis konsisten dengan anthem besar yang siap dinyanyikan ramai-ramai. Pitchfork menulis bahwa Blur menang dalam inovasi, Oasis menang dalam dampak massa. Opini ringannya: Blur cocok didengerin sambil mikir, Oasis cocok sambil teriak bareng temen.

Seiring waktu, rivalitas ini mereda. Blur dan Oasis berjalan di jalur masing-masing. Oasis bubar, Blur tetap muncul sesekali dengan karya dewasa dan reflektif. Bahkan Damon Albarn dan Noel Gallagher akhirnya saling melunak. The Independent menyebut rivalitas ini kini lebih terlihat sebagai “warisan budaya” ketimbang konflik nyata. Waktu memang bikin segalanya lebih adem.

Pada akhirnya, Blur vs Oasis bukan soal siapa yang lebih hebat. Ini tentang dua cara memandang dunia lewat musik. Yang satu sinis dan observatif, yang satu lantang dan penuh mimpi. Dan mungkin, tanpa rivalitas ini, Britpop nggak akan sehidup itu. Kadang, musik butuh sedikit drama biar terasa nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....