Lima Drama Korea Menguras Air Mata

  • 27 Jan 2026 18:17 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Tidak semua tontonan diciptakan untuk menghibur. Sebagian justru hadir untuk menemani penonton merasakan duka, kehilangan, dan luka yang sering kali tak terucap. Dalam dunia drama Korea, kesedihan disajikan bukan sekedar teriakan, melainkan dengan keheningan yang perlahan menghimpit dada.

 

Drama Korea telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia lintas generasi. Daya tariknya tidak semata terletak pada visual para pemain, tetapi pada cerita-cerita yang menyentuh sisi paling rapuh manusia: cinta yang tak sampai, keluarga yang retak, serta perjuangan hidup yang sunyi dan panjang.

 

Di antara ratusan judul yang pernah tayang, ada beberapa drama yang dikenang karena keberaniannya tidak menawarkan akhir bahagia. Justru dari kepedihan itulah kisah-kisah ini meninggalkan kesan mendalam dan terus dibicarakan.

 

1.      Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo (2016)

Menghadirkan tragedi cinta yang kalah oleh takdir dan kekuasaan. Terjebak di era Dinasti Goryeo, Hae-soo (IU) dan Wang So (Lee Joon-gi) saling mencintai di tengah perebutan takhta yang berdarah. Cinta mereka tumbuh indah, namun berakhir dengan kehilangan yang tak terelakkan, menjadikan drama ini salah satu kisah paling memilukan dalam sejarah drakor.

 

2.      My Mister (2018)

Kesedihan dengan nada berbeda ditawarkan My Mister (2018). Drama ini mengikuti pertemuan dua jiwa lelah: Lee Ji-an (IU) yang hidup dalam kemiskinan dan Park Dong-hoon (Lee Sun-kyun) yang terjebak rutinitas tanpa makna. Tanpa romansa berlebihan, My Mister menyentuh penonton lewat empati, dialog jujur, dan realitas hidup yang terasa dekat.

 

3.      Mr. Sunshine (2018)

Sementara itu, Mr. Sunshine (2018) menyuguhkan cinta yang tumbuh di tengah gejolak sejarah. Eugene Choi (Lee Byung-hun) dan Go Ae-shin (Kim Tae-ri) dipertemukan oleh perasaan, namun dipisahkan oleh zaman dan perjuangan bangsa. Drama ini menampilkan pengorbanan sebagai bentuk cinta tertinggi, dengan perpisahan yang sunyi namun bermartabat.

 

4.      Hi Bye, Mama! (2020)

Air mata keluarga mengalir deras dalam Hi Bye, Mama! (2020). Cha Yu-ri (Kim Tae-hee), ibu yang telah meninggal dunia, diberi kesempatan hidup kembali selama 49 hari. Namun dunia telah berubah. Drama ini memaksa penonton menghadapi kenyataan pahit tentang kehilangan dan keikhlasan, dengan emosi yang terasa hangat sekaligus menyayat.

 

5.      The Good Bad Mother (2023)

Tema luka masa kecil dan penyesalan orang tua hadir kuat dalam The Good Bad Mother (2023). Hubungan Young-soon (Ra Mi-ran) dan putranya, Kang-ho (Lee Do-hyun), digambarkan penuh ketegangan akibat pola asuh yang keras. Sebuah kecelakaan membuka ruang rekonsiliasi, menghadirkan kisah tentang cinta orang tua yang sering kali salah cara, namun tak pernah salah niat.

 

Kelima drama ini menunjukkan bahwa kesedihan dalam drama Korea tidak selalu ditampilkan secara meledak-ledak. Ada yang hadir perlahan, ada pula yang menghantam tanpa ampun, namun semuanya berpijak pada emosi yang jujur dan manusiawi.

 

Bagi penonton, air mata yang jatuh bukan sekadar reaksi emosional, melainkan cerminan dari pengalaman hidup yang pernah atau sedang dijalani. Drama-drama ini mengingatkan bahwa kehilangan dan luka adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan manusia.

 

Pada akhirnya, drama Korea tidak selalu memberi pelarian dari kenyataan. Justru dari kisah-kisah paling menyedihkan itulah, penonton diajak memahami arti bertahan, mencintai, dan merelakan—dengan cara yang sederhana, namun membekas lama setelah layar menjadi gelap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....