Duta Kabupaten Klungkung dan Bangli Tampil Memukau

  • 23 Jun 2025 21:14 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar : Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 secara resmi telah dibuka oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon di Ardha Candra Taman Budaya, Provinsi Bali Sabtu (21/6/2025) malam didampingi Gubernur Bali Wayan Koster dan Wagub I Nyoman Giri Prasta.

Di Hari pertama pasca pembukaan PKB yang tahun ini mengambil tema Jagat Kerthi, Lokahita Samudaya yang bermakna “Harmoni Semesta Raya” tersebut menyuguhkan beberapa acara, salah satunya adalah Utasawa atau Parade Gong Kebyar Anak-anak, yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu, (22/06/2025)

Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Panji Gita Semara, Banjar Budaga, Desa Adat Budaga, Kelurahan Semara Pura Kauh, Kecamatan Klungkung sebagai duta Kabupatan Klungkung berkesempatan unjuk kebolehan berhadapan dengan Sanggar Suara Padma Buana, Desa Adat Undisan Kelod, Desa Undisan, Kecamatan Temuku, sebagai duta Kabupatan Bangli.

Sebagai penampilan perdana, duta Kabupatan Klungkung, mempersembahkan tabuh kreasi dengan judul Buda Aga. Tabuh kreasi ini merupakan sebuah karya tabuh kreasi, yang dipresentasikan oleh penata dengan mengambarkan perjalanan spiritual, intelektual manusia menuju puncak kedewasan batin, dimana Buda berarti akal fikiran, dan Aga berarti tempat atau puncak. Gabungan keduanya mencerminkan sebuah tempat sakral bernama Budaga, sebuah simbul ruang perenungan, di mana akal budi dan fikiran manusia diuji, ditempa dan dimurnikan. Garapan Buda Aga merupakan ide dari seorang konseptor dari Desa Budaga, Putu Andre Para Yuda.

Tak kalah memukau, Sangar Suara Padma Buana, duta Kabupaten Bangli, juga mempersembahkan tabuh kreasi, Tri Taka, penyatuan paryangan, palemahan, pawongan, dalam penyelalasan semesta keseimbangan Buana Alit atau badan manusia, dan Buana Agung atau alam semesta raya. Komposisi karya ini memadukan unsur pembentuk musik yang ditata dan diolah menggunakan pola tradisi yang ditonjolkan dan dikembangkan melalui pengolahan melodi, kotekan, hitungan, dan ritme, sehingga menjadi keselarasan jalanan sebuah karya seni yang utuh oleh Penata tabuh, Dewa Made Merta, S.Sn.

Pada penampilan berikutnya, kedua duta menampilkan sebuat tarian. Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Panji Gita Semara, mempersembahkan tari Cili Naya yang melukiskan sekelompok wanita cantik dengan gerakannya yang lemah gemulai, sedang menari-nari sambil bersukaria, mempertontonkan kecantikannya. Tarian ini diciptakan oleh I Wayan Dibia. Sedangkan Sanggar Suara Padma Buana, mempersembahkan tari Menggoak-Goakkan yang merupakan refleksi budaya lokal kabupaten Buleleng,yang mereprentasikan warisan luhur etnis Bali Utara, yang terinspirasi dari permainan teradisional menggoak-goakkan yang dicetuskan oleh raja Buleleng, Ki Barak Panji Sakti pada tahun 1660 masehi di Desa Panji, Kecamatan Sukesada.

Sebagai penampilan pemungkas, Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Panji Gita Semara, Banjar Budaga, mepersembahakan dolanan dengan judul Tung Tang Tung Ting. Dolanan ini mengisahkan, bagaimana Desa Budaga, sampai saat ini masih melestarikan kesenian, budaya dan tradisi, yang mempengaruhi karakter, minat dan bakat anak-anak di lingkungan Desa Budaga untuk masih bergelut dan menggemari kesenian tradisional warisan leluhur, seperti Tari Baris Jangkang Budaga yang sampai saat ini masih di pelajari dan di lakonin agar tetap ajeg dan lestari.

Parade Gong Kebyar Anak-Anak malam itu akhirnya ditutup dengan persembahan dolanan, persembahan duta Kabupaten Bangli, dengan judul Matajen-Tajenan yang merupakan permainan tradisional yang berkembang di Bali pada zaman dahulu. Tidak ada sumber yang resmi, kapan permainan ini dimulai dan berkembang terlebih dahulu. Begitu pula dari mana asal usulnya tidak diketahui dengan jelas. Permainan ini tumbuh subur di kalangan anak-anak sekolah desar pada tahun 50 han, di mana permainan yang bertujuan sebagai media hiburan bagi anak-anak tanpa menggunakan taruhan uang speser pun, tetapi yang ada hanyalah hukuman bagi yang kalah dalam permainan ini. Sarana dan perasaan rakyatnya pun sangat sederhana dan mudah didapatkan. Hanya menggunakan daun talas sebagai ayamnya, dan duri dari pohon salak sebagai tajinya. Lalu daun talas yang berisi duri dari pohon salak itu dilemparkan secara berhadapan dan daun yang robek berarti kalah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....