Kebangkitan Generasi Muda sebagai Pilar Pelestarian Budaya Klungkung
- 02 Agt 2025 15:39 WIB
- Denpasar
KBRN,Semarapura: Ari Yudiantara, pemuda dari desa kecil di Utara Kota Semarapura telah berhasil menghadirkan suatu inovasi yang sangat bermakna, KEBUTAWASAN.
Dalam deru zaman yang semakin cepat dan budaya global yang kian merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari, eksistensi budaya lokal Bali, khususnya di Klungkung, menghadapi tantangan besar. Namun, harapan baru mulai menyala lewat program kerja bertajuk “KEBUTAWASAN: Kenali Budaya Kita Lewat Pemuda Berwawasan” yang digagas oleh I Putu Ari Yudiantara (18), Bagus Klungkung 2025.
Program ini tidak hanya sekadar menjadi ajang selebrasi budaya, namun juga menjadi ruang belajar dan dialog antar-generasi. Bertempat di berbagai titik desa adat Klungkung, kegiatan ini dirancang untuk mendorong peran aktif pemuda sebagai agen pelestari budaya melalui pendekatan edukatif, kreatif, dan kolaboratif.
Ari Yudiantara percaya bahwa kebudayaan bukanlah sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga warisan yang harus dikembangkan dan dijaga agar tetap relevan di masa depan. Melalui KEBUTAWASAN, para pemuda Klungkung diajak untuk tidak hanya mengenali budaya mereka, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki yang kuat terhadap nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Rangkaian kegiatan seperti workshop wayang Lukis kamasan, diskusi budaya lintas generasi, hingga pementasan seni tari dan tabuh secara kolaboratif menjadi jembatan yang menghubungkan pemuda dengan akar tradisi mereka. Kegiatan ini juga dikolaborasikan dengan media digital agar dapat diakses secara lebih luas, termasuk generasi muda yang tumbuh dengan gawai di tangannya.
“Saya melihat bahwa pelestarian budaya tidak akan berhasil jika pemudanya pasif. Maka lewat program ini, Saya ingin mengubah paradigma bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno, melainkan sumber identitas dan kekuatan daerah.”
Yudi menjelaskan bahwa timnya telah melakukan pemetaan terhadap berbagai desa adat di Klungkung, kemudian bekerja sama dengan prajuru desa dan tokoh masyarakat untuk mengadakan sesi belajar budaya langsung di lokasi. Dengan metode partisipatif, pemuda tidak hanya menjadi peserta, tapi juga fasilitator budaya.
Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana budaya lokal bisa bertahan tanpa harus terasing dari kemajuan zaman. Banyak anak muda yang merasa budaya daerah terlalu “berat” atau “tidak relevan” dengan kehidupan mereka. Di sinilah KEBUTAWASAN hadir sebagai solusi antara pelestarian dan inovasi.
Kegiatan ini adalah bentuk hibridisasi budaya. Generasi muda diberi ruang untuk mengenali identitas budayanya, tapi juga diarahkan untuk mengolah dan mengekspresikannya dengan cara yang kekinian, sebagai kunci dari keberlanjutan budaya.
KEBUTAWASAN tak segan menyentuh ranah digital. Dalam salah satu kegiatan, peserta ditantang membuat konten Instagram Reels dan TikTok tentang “Budaya Bali dalam 60 Detik”, yang ternyata mampu menjangkau ribuan penonton muda dan memicu tren positif.
Hingga akhir Juli 2025, Ari Yudiantara telah merealisasikan KEBUTAWASAN dan berhasil menyentuh salah satu desa wisata dan adat yang ada di Kabupaten Klungkung yakni, Kamasan. Banyak pemuda telah terlibat secara aktif sebagai peserta, panitia, atau fasilitator budaya. Selain itu, tercipta lebih dari cukup konten edukatif yang diunggah ke platform sosial media akun resmi Jegeg Bagus Klungkung.
Program ini juga menjadi fondasi penting bagi Klungkung dalam mengembangkan cultural tourism yang otentik. Dengan memberdayakan pemuda lokal sebagai duta budaya, wisatawan bisa mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam dan bermakna.
Tidak hanya sebagai penonton budaya, kini pemuda Klungkung tampil sebagai subjek budaya itu sendiri yang hidup, bergerak, dan berkembang.
KEBUTAWASAN bukan sekadar program tahunan. Ia adalah bentuk komitmen jangka panjang untuk menciptakan generasi muda yang berbudaya dan berdaya saing. Lewat sinergi antara nilai-nilai adat dan semangat modern, pemuda Klungkung tidak hanya menjaga warisan, tapi juga menciptakan masa depan yang berakar kuat pada identitas daerah.
“Budaya bukan hanya tentang masa lalu, melainkan cerminan kita di masa depan.”
— Jegeg Bagus Klungkung 2025
*Penulis: Ni Komang Yuni Paramita Cahyani (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Klungkung)