Empower Youth untuk Generasi Bali yang Progresif

  • 02 Agt 2025 15:38 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Amlapura: Saat kami bertemu, senyum hangatnya menyambut. Pembawaanya santai. Namun, ketika ia mulai bercerita tentang gerakan yang diinisiasi, nada bicaranya berubah lebih mantap, lebih penuh keyakinan. “Saya ingin menunjukkan bahwa pemuda itu nggak harus tunggu tua untuk bisa memimpin. Justru sekarang, di usia muda, kita bisa ambil peran,” katanya membuka percakapan.

Mahendra (25), pemuda asal Karangasem ini adalah founder sebuah gerakan sosial bertajuk Empower Youth (EY): Partisipasi dan Kepemimpinan. Latar belakang pendidikannya di bidang pemerintahan membuatnya peka terhadap pentingnya regenerasi kepemimpinan terutama di Bali, yang struktur adat dan kearifan lokalnya masih sangat hidup. Baginya, pemuda takbisa hanya menjadi pewaris budaya, tetapi juga harus tampil sebagai pelaku perubahan yang membawa nilai dan arah baru bagi komunitasnya.

Ia menjelaskan bahwa gagasan gerakan EY lahir dari keprihatinan sekaligus keyakinan. Data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) 2023 menempatkan Bali sebagai provinsi dengan capaian sangat tinggi, terutama dari segi keaktifan pemuda dalam organisasi. Namun, di balik angka yang membanggakan itu, partisipasi dan kepemimpinan pemuda di tingkat komunitas khususnya dalam struktur adat masih belum optimal. Mahendra melihat celah yang perlu dijembatani agar pemuda tidak sekadar aktif, tetapi juga punya ruang untuk memimpin dan mengambil peran nyata.

Mahendra menyadari bahwa membangun ruang partisipasi yang kuat tidak bisa dilakukan dalam semalam. Gerakan ini telah dimulai, dan kini tengah menata fondasi agar berjalan dengan arah yang jelas dan dampak yang berkelanjutan.

Bagi Mahendra, Sekaa Teruna-Teruni adalah kunci. Ia memandang sekaa teruna bukan sekadar wadah hiburan, melainkan sebagai ruang paling dekat dan kontekstual untuk melatih kepemimpinan sejak dini. Di sinilah pemuda belajar merancang kegiatan, bekerja sama, mengambil keputusan, dan memahami dinamika sosial di tingkat banjar. Semua elemen itu, menurutnya, adalah dasar penting bagi seorang pemimpin.

Empower Youth dirancang dengan strategi yang membumi. Ada pelatihan kepemimpinan berbasis adat, webinar interaktif, kampanye digital yang menampilkan kisah sukses pemuda Bali, hingga roadshow ke desa-desa yang melibatkan langsung para sekaa teruna. Melalui kegiatan ini, Mahendra ingin memfasilitasi pemuda untuk berani memimpin, bukan hanya mengikuti arus.

Gerakan ini juga menyasar perubahan sistemik. Mahendra menginisiasi audiensi dengan Majelis Desa Adat dan bendesa-bendesa, dengan harapan adanya ruang partisipasi formal bagi pemuda dalam forum adat. Selain itu, rekomendasi kebijakan kepemudaan pun sedang disusun untuk diserahkan ke DPRD dan pemerintah daerah sebagai bentuk advokasi kebijakan yang lebih luas dan berdampak jangka panjang.

Tentu, ia tidak menutup mata terhadap tantangan. Kurangnya kepercayaan diri dari kalangan pemuda, masih kuatnya budaya senioritas, serta keterbatasan ruang berekspresi menjadi hambatan nyata yang ia hadapi di lapangan. Namun, ia percaya bahwa dengan pendekatan yang tepat yakni berbasis budaya, inklusif, dan kolaboratif pemuda Bali bisa tampil sebagai pemimpin tanpa harus melepaskan akar budayanya.

Di akhir perbincangan, Mahendra menyampaikan bahwa kepemimpinan tidak harus menunggu giliran. Ia percaya bahwa ketika pemuda diberi ruang, kepercayaan, dan akses, mereka bisa menjadi kekuatan penggerak yang membawa Bali ke arah yang lebih inklusif, berkarakter, dan kuat secara sosial-budaya.

“Pemuda bukan hanya harapan masa depan, tapi juga pelaku utama hari ini. Kepemimpinan bukan soal usia, tapi soal nilai dan aksi nyata,” tutup Mahendra dengan tenang namun penuh keyakinan.

Dari Mahendra kita belajar, perlu upaya tulus untuk mewujudkan pemuda Bali yang progresif, pemuda yang benar-benar kritis dan solutif dalam menghadapi segala dinamika yang ada di Bali.

*Penulis: Ida Ayu Mita Maha Dewi (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Karangasem).


Rekomendasi Berita