Abe Putra Dharma Giat Promosikan Kuliner Lokal
- 02 Agt 2025 15:35 WIB
- Denpasar
KBRN,Jembrana: Komang Abe Putra Dharma adalah sosok pemuda yang berasal dari Jembrana, sebuah daerah yang terletak di ujung barat Pulau Bali yang masih terjaga keasrian alamnya. Tanah kelahirannya tidak hanya memberi lanskap alam yang megah dengan hamparan laut yang indah, tetapi juga mengilhami kecintaan mendalam terhadap budaya dan cita rasa. Dari sanalah ia memulai perjalanan hingga terpilih menjadi Bagus Jembrana tahun 2025.
Baginya, terpilih menjadi Bagus Jembrana bukan hanya tentang euforia kemenangan di atas panggung, melainkan sebuah tanggung jawab untuk menjadi bermanfaat dan berdampak untuk memajukan Jembrana. Setiap langkah dan tindakan yang dilakukannya akan menjadi cerita tentang perannya sebagai Bagus Jembrana. Sejalan dengan itu, keinginannya untuk berkontribusi dalam melestarikan budaya Jembrana semakin besar.
Jembrana dikenal dengan julukan “Bumi Mekepung”. Selain budaya masyarakat dan adat istiadat yang sangat beragam, Jembrana juga terkenal karena berbagai macam kuliner tradisionalnya. Seringkali seseorang datang mengunjungi Jembrana itu karena daya tarik kulinernya. Ya, tentu saja Betutu menjadi salah satu kuliner Jembrana yang paling terkenal. Namun, apakah kuliner khas Jembrana hanya Betutu saja?
Tentu tidak. Masih banyak makan khas Jembrana lainnya yang tidak kalah lezat dari Betutu. Namun, sayangnya, makanan itu tidak seterkenal Betutu. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan Komang Abe Putra Dharma untuk lebih mengenalkan Jembrana melalui berbagai jenis makanan khasnya. Dengan mengangkat tema “Alam dalam Rasa”, ia ingin mengajak generasi muda Jembrana untuk bangga memperkenalkan kuliner khas daerah mereka dan kembali merasakan keaslian alam lewat cita rasa kuliner.
Memiliki hobi kulineran, menurutnya, kuliner bukanlah sekadar kebutuhan jasmani. Dalam setiap sajian, kuliner menjelma menjadi artefak rasa yang merekam sejarah, medium budaya yang mengisahkan peradaban, dan panggung tempat kreativitas berekspresi. Dalam setiap proses memasaknya pun, mulai dari memilih bahan, memotong, mengolah, hingga menyajikannya terkandung alunan estetika yang mencerminkan warisan leluhur. Bahkan, saat seseorang memotong bahan-bahan untuk membuat Lawar Klungah, misalnya, irama yang dihasilkan oleh tangan-tangan terlatih itu bisa menciptakan nada khas yang mengalun indah, menciptakan simfoni dapur yang hidup.
Komang Abe Putra Dharma meyakini bahwa kuliner suatu daerah memiliki kaitan erat dengan kemajuan pariwisata di sekitarnya. Melalui setiap hidangan, kuliner membawa cerita, filosofi, dan nilai-nilai budaya yang mengendap dalam bumbu dan cara penyajiannya, seperti Lontong Serapah, salah satu kuliner khas Jembrana, yang mencerminkan keseimbangan, gotong royong, dan kerja sama masyarakatnya. Perpaduan apik antara lontong, sayuran, dan santan yang dibalut dengan rempah-rempah khas menunjukkan keselarasan manusia dengan alam dan sesama.
Daya tarik kuliner inilah yang mampu membangkitkan selera, mengukir ingatan, dan bahkan menjadi alasan wisatawan untuk berkunjung, menciptakan pengalaman multisensorik yang tak hanya memuaskan perut, tetapi juga menyentuh hati dan jiwa. Oleh karena itu, Komang Abe Putra Dharma sangat optimis dengan promosi dan pelestarian kuliner tradisional Jembrana melalui programnya “Alam dalam Rasa” dapat menjadi pemantik kuat yang mampu menghidupkan semangat generasi muda untuk bangga memperkenalkan makanan tradisional daerahnya melalui media sosial.
Bahkan, di tengah arus globalisasi ini, ia tak gentar menghadapi tantangan dalam melestarikan warisan budaya daerahnya, khususnya di bidang kuliner. Ia beranggapan bahwa kemajuan tekonologi seharusnya menjadi peluang untuk mempromosikan warisan budaya. “Jangan sampai kemajuan teknologi malah membentuk pola pikir yang membuat generasi muda cenderung beranggapan bahwa makanan tradisional itu usang dan kurang menarik secara estetika. Akan tetapi, kemajuan teknologi harus kita mamfaatkan dan jadikan peluang untuk mengenalkan berbagai macam budaya yang kita miliki, terutama kulinernya,” tuturnya.
Di balik itu, ia menyadari meskipun media sosial kini menjadi denyut nadi komunikasi global, memperkenalkan kuliner tradisional Jembrana tidak cukup hanya dengan mempromosikannya lewat flatform tersebut. Ia percaya bahwa ada hal lain yang harus ia usahakan. Maka dari itu, ia juga merancang berbagai festival dan workshop sebagai panggung untuk memajukan cita rasa kuliner Jembrana. Festival ini bukan semata-mata ajang kompetisi, melainkan ruang perjumpaan rasa, sejarah, dan identitas.
Meski jalannya terjal, ia menyimpan harapan besar agar seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, turut andil dalam upaya pelestarian ini. “Kontribusi tak harus dimulai dari lingkup besar. Sebuah langkah kecil dalam keluarga sudah cukup untuk menumbuhkan kecintaan itu,” ungkapnya.
Harapannya, kuliner lokal tidak hanya dinikmati semata, tetapi juga dicintai dan dilestarikan. Ia ingin melihat lebih banyak anak muda yang bangga memperkenalkan makanan khas di desanya. Ia ingin gerakan ini mengakar dari meja makan keluarga ke festival desa, bahkan hingga ke dunia digital. Karena baginya, mencintai kuliner lokal berarti menjaga alam dan warisan budaya dalam satu suapan sederhana.
*Penulis: Ni Luh Luna Cahaya Christie (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Jembrana).