Menumbuhkan Rasa Peduli Lewat Permainan Tradisional
- 02 Agt 2025 15:33 WIB
- Denpasar
KBRN,Gianyar:
“Meong meong
Alih je bikule
Bikul gede gede
Buin mokoh mokoh
Kereng pesan ngerusuhin”
Lagu anak-anak Bali ini dulu sangat lekat dengan masa kecil. Dilantunkan sambil membuat lingkaran dan bermain di tanah lapang, diiringi tawa yang riuh dan peluh yang menetes. Tapi kini, coba lihat sekeliling. Masihkah lagu ini terdengar? Masihkah anak-anak menyanyi sambil berlari di halaman rumah? Atau kini tangan-tangan kecil itu justru lebih sibuk menggulir layar gadget, bermain sendiri dalam dunia digital yang sunyi?
Di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang terus bergerak cepat, ada satu hal mendasar yang perlahan-lahan memudar dari kehidupan anak-anak: rasa kepedulian. Anak-anak masa kini tumbuh dengan interaksi digital, sering kali terputus dari dunia nyata dan lingkungan sosial di sekitarnya. Dari kegelisahan itulah, lahir sebuah gerakan sederhana namun mengakar, bernama SRADHA.
SRADHA merupakan singkatan dari Smart Regenerative Action for Developing Harmonious Area. Gerakan ini adalah bentuk advokasi sosial dan budaya yang dipelopori oleh Ida Bagus Maha Dharma Manuaba, seorang siswa SMA Negeri 1 Sukawati, Kabupaten Gianyar, sekaligus finalis Jegeg Bagus Bali 2025. SRADHA hadir sebagai upaya menumbuhkan kembali rasa kepedulian anak-anak terhadap sesama, terhadap lingkungan, dan terhadap budaya lokal, bukan dengan paksaan atau ceramah, melainkan lewat hal yang paling dekat dengan mereka yaitu permainan.
"Anak-anak tidak bisa diajak peduli hanya dengan larangan atau nasihat. Mereka harus merasakannya sendiri. Dan permainan adalah cara terbaik untuk menanam rasa itu," tutur Maha Dharma.
SRADHA memilih permainan tradisional Bali sebagai medium utama. Bukan sekadar ingin membangkitkan nostalgia, tapi karena permainan-permainan ini menyimpan begitu banyak nilai sosial, emosional, hingga budaya yang penting untuk ditanamkan sejak dini.
Permainan seperti metajog, curik-curik, dan megala-gala misalnya, mengajarkan anak-anak untuk menunggu giliran dengan sabar, bekerja sama dengan teman, menyusun strategi, menerima kekalahan dengan lapang dada, dan yang terpenting, terhubung secara nyata dengan orang lain.
Di masa kini, ketika permainan digital lebih banyak dimainkan secara individual, kehadiran SRADHA menjadi jembatan untuk menghidupkan kembali interaksi sosial dan nilai-nilai kultural yang dulu tumbuh secara alami.
SRADHA telah mulai berjalan, dengan fokus pelaksanaan di Kabupaten Gianyar, khususnya di lingkungan sekolah dasar. Bersama dengan Sekolah Desa program kerja Jegeg Bagus Gianyar 2025 yang terdiri dari semeton Jegeg Bagus Gianyar, relawan muda dan dukungan dari para guru serta perangkat desa, Maha Dharma dan rekan-rekannya mengadakan kegiatan bersama anak-anak di Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh. Mereka tidak datang sebagai penyuluh atau pelatih, tetapi sebagai teman bermain.
Melalui pendekatan yang menyenangkan dan partisipatif, anak-anak diajak bukan hanya bermain, tetapi juga mengenal makna di balik permainan tersebut, termasuk sejarah, filosofi, dan nilai budaya Bali yang terkandung di dalamnya.
Gerakan ini bukan sekadar kegiatan seremonial. SRADHA membawa dampak nyata terhadap perkembangan anak. Manfaat permainan tradisional yang ditawarkan antara lain:
1. Meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi
2. Mengembangkan kecerdasan emosional
3. Melatih motorik kasar dan koordinasi fisik
4. Mengurangi ketergantungan terhadap gadget
5. Membangun koneksi antargenerasi
6. Menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal
7. Dan yang paling penting, menanamkan rasa peduli terhadap sesama dan lingkungan sejak usia dini
Menurut Maha Dharma, permainan ini adalah “jalan pulang” bagi anak-anak yang mulai kehilangan hubungan dengan lingkungan sekitar. Ia percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari rasa kecil yang dirawat dengan konsisten.
Model pelaksanaannya cukup sederhana namun berdampak. SRADHA melakukan sosialisasi, dan mengadakan sesi permainan bersama. Tidak ada pembatas antara fasilitator dan peserta. Semua duduk di tanah yang sama, menarik tali yang sama, dan tertawa bersama.
Di sela permainan, anak-anak juga diajak berdialog ringan: Apa yang mereka rasakan saat bermain? Apa arti kerja sama? Apa yang mereka pelajari hari itu? Melalui proses ini, SRADHA tidak hanya mengembalikan fungsi bermain sebagai sarana hiburan, tapi juga menjadikannya sebagai alat edukasi sosial dan kultural yang menyenangkan.
SRADHA adalah bukti bahwa regenerasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk teknologi tinggi, proyek besar, atau kebijakan formal. Terkadang, ia bisa berawal dari seutas tali permainan, dari sebuah lingkaran anak-anak, dari tawa yang mengalir tanpa dibuat-buat. Dari situ, rasa tumbuh. Dan dari rasa, lahirlah gerakan:
Bertumbuh dari rasa, bergerak menjaga semesta, bersama SRADHA.
*Penulis: Ni Putu Mira Marjaya Putri Jayaningsih (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Gianyar).